Memasuki tahun kedua Ghina berpacaran dengan Giandra, tapi si gadis belum pernah mempertemukan pemuda itu dengan keluarganya. Bukannya ia tak mau, tapi memang keduanya sibuk kuliah. Belum lagi Giandra magang, calon-calon budak korporat sudah tercium dari jaman kuliah.
Celotehan asal juga tawa kini menghiasi koridor FASILKOM pagi hari ini. Bahkan si tokoh utama ikut meledeki dirinya sendiri, sama sekali tak memperlihatkan bahwa ia gugup. Padahal pemuda itu sempat mengalami demam tiga hari yang lalu karena sibuk memikirkan “besok gua sempro gimana ya...”
Benar. Pemuda dengan nama belakang Hanantara itu melaksanakan seminar proposal pada hari ini. Bahkan satu rumah HARUS mengosongkan jadwal mereka demi sang adam. Jadi, jangan heran jika koridor ramai seperti pasukan siap perang.
Sudah bukan hal aneh lagi jika Ia dan Giandra harus merasakan LDR Jakarta-Bogor selama libur kuliah. Wajar. Selama liburan juga biasanya mereka jarang berkomunikasi. Kalau kata Gian sih, kapan lagi kumpul sama keluarga sebelum punya keluarga sendiri. Paling-paling di akhir pekan sang adam mampir ke rumahnya dan lanjut ke puncak.
Kalau ditanya apa yang Ghina benci dari Giandra, jawabannya saat pacarnya itu mode cemburu. Sebenarnya, ia sudah sadar jika pemuda itu cemburuan, jauh sebelum mereka berpacaranㅡmengingat masa PDKT mereka cukup panjang. Tapi makin menjadi ketika mereka berpacaran.
Sudah bukan hal aneh lagi jika mahasiswa mengalami demam tiap semesternya. Tertutama menekati UTS atau UAS-atau bahkan setelahnya. Ghina salah satunya.
Ujian tengah semester telah berakhir tiga hari yang lalu. Tapi efeknya masih terasa hingga sekarang. Demam. Sebuah efek dari begadang semalaman dan menjadi zombie di pagi hari. Terima kasih pada ujian teori, ujian praktikum, serta laporan-laporan yang telah membuatnya harus mengambil jatah absen sejak dua hari yang lalu.
Gadis Alviera kembali menyeruput minuman di depannya. Sudah lima belas menit ia menunggu Giandra datang. Namun, hingga kini sang adam belum menunjukan batang hidungnya. Ghina bahkan sampai bosan menscroll beranda instagramnya.
Dwinetra milik Ghina kini teralih pada sosok pemuda yang duduk di kursi sebelahnya. Bisa saja ia menjawab “enggak ada” dengan cepat. Sayangnya, jawaban yang keluar dari mulutnya malahㅡ
Jemari gadis Anindita kembali memijit pelipisnya. Hari spesialnya hanya dipenuhi dengan pertanyaan, “ini anak tiga bakal ngapain?”, “gua bakal dikerjain mereka gak ya?”, “kenapa sih gua harus temenan sama mereka???”, dan mungkin terlalu banyak jika harus disebutkan satu persatu.
Putih abu-abu, banyak orang bilang jika itu masanya para remaja jatuh cinta. Selalu berekspektasi dengan kisah bergenre romance-comedy selama tiga tahun menimba ilmu. Ya, setidaknya terselip satu kisah romantis yang bisa dibanggakan di hari tua.
Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit dari rumah hingga tempat pemancingan yang di kunjungi si kembar Pradipta. Sadewa kira ia perlu menunggu di parkiran sampai kedua kakaknya datang. Sayangnya ia masih harus turun ke area pemancingan dengan alasan terlalu berat untuk dibawa berdua. Ya memangnya seberat apa sih sampai dua kakaknya itu tidak kuat?