Pertemuan Dua Insan

“Permisi, kak, punya pulpen lagi, gak?”

Dwinetra milik Ghina kini teralih pada sosok pemuda yang duduk di kursi sebelahnya. Bisa saja ia menjawab “enggak ada” dengan cepat. Sayangnya, jawaban yang keluar dari mulutnya malahㅡ

“Buat apa?”

Jika boleh jujur, ia bukan tipe orang yang suka berbasa-basi, terutama pada orang asing.

“Ngerjain tugas,” jawab sang adam membuat sang puan hampir tersedak ludah sendiri. Bukan terkejut dengan alasannya, tetapi posisi mereka yang tengah menghadiri seminar. “Boleh pinjem, kak?” tanyanya lagi untuk memastikan.

Gadis Alviera pun berpikir sejenak, sedikit ragu tentunya. Tak lama mengangguk lalu memberikan pulpen yang ia pegang sejak tadi.

Lima belas menit pun berlalu. Gadis bersurai hitam legam itu mulai bosan dengan presentasi yang ada. Tubuhnya dibawa sang empu untuk bersandar, melirik sekilas kearah pemuda di sebelahnya. Ia baru sadar jika sang adam tidak sendiri-ada dua orang lagi jika ia tidak salah.

“Buruan anjir, deadlinenya lima belas menit lagi.” “Masih lama itu.” “Tinggalin aja udah.” “Emang ya, TEMEN!”

Ricuh tapi tidak berisik. Yang bisa Ghina lakukan hanya buang muka, takut-takut ia dikira teman mereka.

Ketiganya pergi tak lama setelah membuat keributan kecil. Beruntung mereka duduk di bagian belakang, bahkan dekat dengan pintu keluar. Juga netra Ghina yang mengikuti kepergian ketiga anak adam itu. Sedikit bersyukur karena tak akan ada keributan untuk kedua kalinya.

Hingga ia tersadar akan barang yang sedang dipinjamkanㅡ

“PULPEN GUA SATU-SATUNYA???”

Ya, ini sih nasibnya beli pulpen baru. ㅤ ㅤ ㅤ


ㅤ ㅤ ㅤ “Nah, ketemu.”

Ghina yang sibuk mencari buku referensi pun menoleh. Perpustakaan memang identik dengan tempat yang hening. Maka ia tak sulit menemukan dimana arah sumber suara. Dan sebuah pulpen kini disodorkan oleh pemuda yang entah datang dari mana dan sejak kapan.

“Makasih, kak,” ucap sang adam membuat si gadis bingung.

Dahinya berkerut, mengingat-ingat siapa pemuda di depannya juga apa hubungannya dengan pulpen. “Ambil aja. Udah sebulan juga kan ada di kamu?” ucap si gadis kala ia mengingat kejadian seminar sebulan yang lalu.

“Gak boleh gitu, kak.” Tanpa aba-aba, tangan sang adam meraih tangan Ghina cepat, menyimpan pulpen tersebut di telapak tangan si gadis serta merapatkan jemari gadis itu-membuat Ghina menggenggam pulpen miliknya. “Namanya juga minjem, harus dibalikin. Gak pernah saya pake juga kok setelah hari itu.”

Gadis itu mengedipkan matanya berulang kali, masih memproses kejadian beberapa detik yang lalu. Rasanya waktu berjalan 10x lebih lambat. Ia mengangguk sebagai respon akan penjelasan pemuda di depannya.

Netranya kini teralih pada pergelangan tangannya yang masih digenggam oleh sang adam. Beruntung lawan bicaranya peka pada keadaan sehingga ia melepas genggaman tangannya tanpa diminta.

Sorry,” ucapnya cepat sembari mengusap tengkuknya. “Hari ini sibuk gak? Saya mau traktir sebagai ucapan terima kasih sama permintaan maaf.”

Kedua alis Ghina bertaut. Bingung. “Buat apa?”

“Sebagai ucapan terima kasih sama permintaan maaf,” ulang sang adam.

“Saya gak minta.”

“Tapi saya mau.”

“Tapi-”

“Saya maksa.”

Ghina menghela napas lelah. Gak akan kelar kalo gini ceritanya. Berakhir ia melontarkan alasan, “tapi saya gak bisa sekarang, masih ada jam kuliah sampai sore.”

Sang adam mengangguk. Dengan cepat tangannya meraih ponsel kemudian menyodorkannya pada si gadis. “Nomornya deh, biar enak janjiannya.”

Loh, ini sih modus namanya.

“Bukan modus kok. Serius.” Mau bilang apa pun juga sang puan masih melirik pemuda itu seperti meminta penjelasan lebih. “Kenalan dulu deh. Saya Giandra, anak ilmu komputer angkatan 2015. Nomor NIM sekalian juga gak?”

Kekehan pun kini dilayangkan oleh gadis. Seangkatan rupanya. Yang ia lakukan sekarang adalah meraih ponsel sang adam, mengetik nomor sekaligus menyimpan kontaknya di ponsel sang adam. Dan ini TMI, satu-satunya orang asing yang berhasil mendapatkan nomornya mungkin hanya pemuda ini. “Gua Ghina, ilmu keperawatan angkatan 2015.” Ia memperkenalkan diri, impas.

“Kirain kating,” ujar sang adam membuat gadis itu kembali terkekeh, “handphonenya di silent kan? Gua telepon ya.”

“Jangan!”

Terlambat sudah. Ponselnya berdering nyaring membuat seluruh mata tertuju pada mereka berdua. Ya...secepat apa pun tangan Giandra mengcancel panggilan atau Ghina yang mereject, tetap saja kalah dengan kecepatan jaringan.

Keduanya tersenyum canggung. Menyerukan permintaan maaf tanpa suara pada para pengunjung yang lain. Cukup beruntung mengingat hanya ada beberapa orang yang ada di perpustakaan siang itu.

Sorry,” bisik Giandra setelah membuat keributan. “Udah ah, gua kabur. Selamat ketemu lagi, Ghina.” Dan sang adam langsung pergi tepat setelah menyelesaikan ucapannya.

Sedangkan gadis Alviera hanya dapat menghela napas pasrah. Sepertinya ia tidak akan datang ke perpustakaan dalam waktu dekat. Dan, mari kita doakan kejadian ini tidak menjadi cerita dari mulut ke mulut hingga ia lulus. ㅤ ㅤ ㅤ ㅡEnd, http10tion