Tentang Ghina, Giandra, dan Bogor
Memasuki tahun kedua Ghina berpacaran dengan Giandra, tapi si gadis belum pernah mempertemukan pemuda itu dengan keluarganya. Bukannya ia tak mau, tapi memang keduanya sibuk kuliah. Belum lagi Giandra magang, calon-calon budak korporat sudah tercium dari jaman kuliah.
Weekend kali ini, keluarga dari gadis Alviera mengadakan kumpul keluarga. Biasa, acara tahunan. Ghina udah bilang pacarnya dari jauh-jauh hari dan pemuda itu mau mengantarnya dengan alasan hemat ongkos. Niatnya sih nganter-kenalan-pulang, gak enak karena ini acara keluarga besar. Tapi apa daya ibu si gadis berkata lain
“Ghin, yang bener aja. Masa iya mama kamu nyuruh aku main ke rumah.”
Giandra memasang wajah memelas pada si gadis. Yang Ghina tau, Ghina adalah pacar pertamanya. Jadi, wajar saja jika pemuda itu langsung lemas mendengar perkataanya.
“Loh, tadi aku mau pulang sendiri, tapi kamu maksa mau nganterin.” Ghina menatap pemuda di depannya bingung. “Pas laporan ke mama, mama pengen ketemu kamu.”
Pemuda Hanantara tampak mencari jawaban-atau sebuah mungkin alasan. Sedangkan gadis di depannya malah sibuk menyantap bubur miliknya.
Ghina jadi gemas sendiri melihat pacarnya kebingungan. Namun, ia tak mungkin membuang banyak waktu lagi. “Yaudah, anterin aku ke stasiun aja,” ucap si gadis membuat Giandra tersedak.
“Gak gitu, Ghin,”
“Depok ke Bogor deket, kok. Nanti aku tinggal minta kak Jihan jemput di stasiun.”
Giandra menghela napas pelan. “Yaudah. Ayo berangkat.” ⠀
⠀ Acara keluarga gadis Alviera pun telah usai sejak sore tadi. Kalau kata mamanya sih ada untungnya Ghina bawa pacar, ada bala bantuan untuk membersihkan rumah. Ditambah pemuda itu langsung bergerak tanpa disuruh atau disindir terlebih dahulu. Giandra dan bersih-bersih memang tidak bisa dipisahkan.
Kalau ditanya apa yang harus diceritakan, ya, tidak ada. Hanya tentang Giandra dan interview mendadak selama enam jam non stop. Ada aja yang berusaha digali keluarganya tentang pemuda itu. Jangan tanya kemana perginya si gadis, tentu ia menghilang, enggan membantu sang adam yang diselimuti pertanyaan-pertanyaan tidak berguna.
Malamnya, Ghina membawa sang adam ke tempat favoritnya selama ia sekolah sampai sekarang. Suatu kios yang berdiri cukup lama serta soto mie yang mereka jual. Bermodalkan sepeda motor yang dibawa sang adam, keduanya sampai dalam waktu lima belas menit.
Tentu saja si gadis harus melewati rintangan seperti omelan sang ibu, omelan sang kakak, juga omelan pacarnya. Ya, orang waras mana yang memilih makan di luar disaat ibunya masak berbagai macam lauk. Sebenarnya Ghina mau sih makan di rumah, cuma ia lebih kangen makan soto mie di Bogor langsung dibanding masakan ibunya. Toh, ia juga sudah makan lauk yang sama tadi siang.
“Udah sama yang baru, teh?” ledek si pemilik toko saat mengantarkan pesanannya. Yang diledek pun terkekeh kemudian mengucapkan terima kasih bersamaan dengan sang adam.
“Ohh, banyak kenangannya sama mantan toh.”
“Soto mienya enak, Giandra,” koreksi si gadis yang telah menyantap miliknya. “Dulu tuh makan disini selalu rame-rame sama anak kelas, ada kali sepuluh orang. Sekalinya ngajak mantan makan bareng, besoknya putus.”
“Iya, nanti sama aku pasti makan soto mie terus tiap ke Bogor,” sahut sang adam membuat gadisnya terkekeh.
“Emang kamu gak bosen?”
Sang adam langsung menggeleng, “kan kita gak makan soto mie tiap hari.”
Keduanya kini terdiam, lebih memilih untuk menyantap makanan di depannya sebelum dingin. Sesekali si gadis melirik kearah sang kekasih, tersenyum bangga ketika ia mendapati pemuda itu menikmati makanannya.
“Tadi ngobrolin apa sama papa?” tanya si gadis memecah keheningan.
“Katanya kalo main lagi, papamu mau bikin ujian militer buat aku.”
Gadis itu mendelik. Ini ayahnya ada-ada aja deh. “Terus kamu jawab apa?”
Yang ditanya berpikir sejenak, “aku jawab, 'gak bisa sekarang aja om?' eh malah gak boleh pulang sampai acara kelar.” Jangan tanya ekspresi Ghina sekarang. Bisa-bisa cowok itu malah nantangin. “Terus kelar bersih-bersih papa kamu bilang, 'oke, kamu lulus ujian militer' lah aku bingung.”
Tawa si gadis pun meledak kala sang adam menyelesaikan ceritanya. Serius, ini yang teraneh dari yang teraneh. Ia tak habis pikir dengan 'ujian militer' yang entah apakah Giandra disuruh bersih-bersih atau ada ujian tersembunyi selama mereka di rumah.
Senyumnya kian mengembang mengingat rentetan kisah yang terjadi setahun belakangan. Yang jelas, ia tak pernah membayangkan kehidupannya sebagai mahasiswinya didominasi kisah manis.
“Gian,” panggil si gadis, “makasih ya buat hari ini.”
Sang empunya nama pun mengangguk. “Aku juga mau bilang makasih,” sahut sang adam. Pandangan mereka beradu, saling menyalurkan perasaan mereka yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Hingga ucapan sang adam yang membuyarkan adegan romantis malam ini.
”-atas makanannya hari ini.”
“Udah lah, aku males ngomong sama kamu.”
Kalau punya pacar yang love language nya “ngajak ribut” ya begini. Gak bisa diajak romantis. ㅤ ㅤ ㅤ ㅡEnd, http10tion