Jadian?

Gadis Alviera kembali menyeruput minuman di depannya. Sudah lima belas menit ia menunggu Giandra datang. Namun, hingga kini sang adam belum menunjukan batang hidungnya. Ghina bahkan sampai bosan menscroll beranda instagramnya.

“Ghin!”

Akhirnya muncul juga.

“Abis ngewibu ya, lu?” sindir si gadis, mengingatkan sang adam pada alasan minggu lalu.

“Enggak. Abis ngobrol sama bang Radit,” jawab Giandra sembari menyeruput minuman milik Ghina. “Kata bang Radit lu abis nolak dia. Katanya lu jutek banget,” lanjut sang adam membuat lawan bicaranya menyerit bingung.

“Radit?” Ia berpikir sejenak, mengingat perawakan si empunya nama, “lo kenal kak Radit?”

“Satu kosan,” jawab pemuda Hanatara singkat. “Bentar ya, mau mesen minum dulu.”

“Titip kentang, Gian.”

Setelah kepergian sang adam, Ghina memikirkan kejadian seminggu yang lalu. Alasannya menolak kakak tingkatnya karena mereka baru kenal dua minggu. Padahal alasan utamanya karena ia stuck dengan Giandra. Ahh-Rosa dan Helena bahkan sering memarahinya karena menunggu yang tidak pasti. Satu tahun terlalu lama untuk masa PDKT, kata mereka.

“Ngelamun aja. Mikirin bang Radit?”

Yang ditanya menggeleng pelan. Terlalu memikirkan hubungannya dengan Giandra membuat kepalanya semakin pening. Masa iya harus dia yang memulai. Gengsi! Belum malu dan rasa canggung setelahnya. Ghina mau nangis rasanya.

“Kayaknya lu demen banget nolak cowok, deh,” ucapan pemuda Hanantara membuat Ghina perang batin.

“Baru tiga.”

“Iya, itu yang lu tolak. Yang lu kacangin?” ledek sang adam. Beberapa detik berikutnya ia merintih kesakitan. Tentu saja karena Ghina menginjak kaki Giandra tanpa aba-aba. “Galak banget lu kalo sama gua. Perawat galak kaya gini mah, pasiennya kabur semua.”

“Kalo pasiennya kaya lu, mending gua ajak baku hantam.”

Setelah ucapan Ghina, keduanya saling diam. Pemuda Hanantara sibuk dengan laptop di depannya, sedangkan si gadis enggan memulai obrolan baru. Sesekali erangan kesal dari Giandra memecah keheningan dan tentu saja diabaikan. Lebih baik ia sibuk dengan ponselnya.

“Ghin,” panggil sang adam dan dibalas dehaman oleh si gadis. “Alasan lu nolak cowok kenapa, dah?”

“Deket baru dua minggu udah ngajak pacaran. Emangnya gua apaan,” sewot si gadis.

“Kalo gua yang nembak, lu tolak juga, gak?”

“Ya enggak, lah.”

“Hah?”

1 detik

3 detik

5 detik

“Tolol banget, Ghina!” pekik si gadis sembari menutup wajahnya malu. Kepalang tanggung, sang puan pun berseru, “Gian, jadi pacar gua, yuk!”

“L-lu nembak kaya ngajak jajan cilok.” Ginadra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, canggung rasanya. “Harusnya kan itu bagian gua.”

“Kelamaan kalo nungguin lu,” cicit gadis Alviera pelan.

“Gua mau gerak cepet, tapi webnya error mulu,” ucapan Giandra membuat lawan bicaranya menyerit bingung. Tau akan kebingungan si gadis, ia memutar laptop miliknya. Layar itu menampilkan rentetan koding yang jelas tak dimengerti gadis Alviera. Dalam hitungan detik, layar berganti menjadi web yang dimaksud sang adam. Baru beberapa laman yang ditampilkan, layar kembali ke laman awal. “Gua sampai nanya sama kating asal lu tau.”

“Lagi gaya-gayaan, hobinya tipsen juga.”

Sang adam kini sibuk merapikan laptopnya, kemudian menghabiskan minuman yang ia pesan. “Dah, yuk cabut.”

“Lah, gak dilanjutin?” tanya Ghina bingung.

Yang ditanya menggeleng kemudian melukis senyuman di wajahnya. “Gak lah, kan udah jadi pacar.”

“Dih. Kok-”

“Gak usah banyak protes ah. Berasa petinggi negara deh gua, diprotes mulu,” potong Giandra sembari merangkul gadisnya. Daripada dirangkul, sang adam malah terlihat sedang menyeret si gadis.

Jadiannya? Udah. Gitu doang. ㅤ ㅤ ㅤ ㅡEnd, http10tion