Akhir Tanpa Sebuah Awalan

April, 2015

Putih abu-abu, banyak orang bilang jika itu masanya para remaja jatuh cinta. Selalu berekspektasi dengan kisah bergenre romance-comedy selama tiga tahun menimba ilmu. Ya, setidaknya terselip satu kisah romantis yang bisa dibanggakan di hari tua.

Namun, memang tak semua seindah lagu Kisah Kasih di Sekolah milik Chrisye atau Inikah Cinta yang dipopulerkan oleh M.E. Tau-taunya kisah kasih berjalan seperti lagu Dewa19 yang berjudul Pupus dan bahkan menjadi Mantan Terindah kalau kata Kahitna.

Dan, Ya, apapun itu, semangat untuk pejuang cinta di masa putih abu-abu!

Tidak jauh berbeda dengan jalan cerita Evelyn selama mengenyam pendidikan di SMA. Manis manis tragis. Tragis karena hanya saling melabeli “itu punya gua, jangan di gebet” dengan sang gebetan, Devian Arga Pratama, tapi tak ada status diantara mereka. Kayak, semua orang tau mereka deket, tapi kalau ditanya statusnya apa, ya, “cuma temen”.

Cukup disayangkan. Padahal kerjaan mereka suap-suapan bekal milik Evelyn, saling berbagi contekan, yang terakhir saling sinis kalau ada “pengganggu” di sebelah temannya itu.

Tolong semua salahkan Arga yang sok-sokan berjanji pada sang ibu untuk tidak berpacaran sampai umurnya 25 tahun. Beruntung Evelyn bukan tipe perempuan yang harus berpacaran untuk melakukan adegan “menggelikan” setiap harinya. Ya, walau berakhir si gadis mendapat omelan dari teman dekatnya.


Ujian kelas dua belas telah berakhir sepekan yang lalu. Mereka hanya tinggal menunggu kelulusan. Walau kenyataannya mereka tidak boleh meliburkan diri, mengingat absensi tetap berjalan. Ya, jangan heran jika masuk ke kelas dua belas akan menjumpai anak-anak yang telah berubah menjadi anak ayam di pasar. Rambut berwarna coklat terang, dark blue, atau bahkan merah menyala menjadi pemandangan indah bagi guru BK. Begitu pula Arga, memilih bersembunyi di taman belakang, tampat persembunyian anak kelas jika malas ikut kelas.

“Kenapa lu? Abis disemprot bu Maya?” Arga kini berdecak kesal kala gadis Anindita menghampiri, “HAHAHAHA ANAK AYAM!” Tawa Evelyn pecah seketika saat ia sadar akan perubahan rambut legam milik sang adam.

“Diem kenapa sih, nanti ketauan.” Gadis itu langsung diam, walau pada kenyataannya ia malah tertawa tanpa suara. “Sialan emang si Bima, katanya kemarin dia ganti warna rambut jadi hijau, tau-taunya masih hitam,” gerutu sang adam kembali mengundang tawa bagi gadis disebelahnya.

“Ya lu aneh-aneh aja, anak ayam,” ledek Evelyn membuat lawan bicaranya memutar bola mata malas.

Seketika hening menghampiri. Ucapan gadis Anindita menjadi akhir akan topik warna rambut Arga. Lebih tepatnya, sang adam malas menanggapi dan Evelyn tidak ingin memancing emosi temannya yang bersumbu pendek itu. Membiarkan angin siang menerpa wajah mereka, menikmati waktu berdua tanpa obrolan.

Lima menit berlalu. Arga kembali bersuara, tidak bisa berlama-lama dengan keadaan hening. “Gimana persiapan sbm lu?”

Lirikan sinis kini dilayangkan gadis berpipi chubby itu, kemudian ia berdecak kesal. “Iya tau yang pinter mah,” cibir Evelyn disambut tawa renyah oleh sang pujaan hati.

Lucu memang kisah cinta anak SMA. Terlihat biasa, tapi terasa manis bagi mereka yang jadi pemeran utama.

“Lyn,” panggil sang adam pelan dan disambut dehaman oleh si empunya nama, “kita udahan aja, ya?”

Si gadis menoleh. Dapat Arga tebak jika gadis itu menatapnya bingung dengan dahi berkerut, tapi ia sama sekali tak berniat menatap balik gadis itu.

“Apa yang udahan?” tanya lawan bicaranya, memastikan maksud si pemuda.

“Kita.” Arga diam sejenak, mencari kata yang bisa mendeskripsikan kata itu, “hubungan kita.”

Evelyn tekekeh kecil, “Kita bahkan gak punya hubungan apa-apa, Arga. Masa lu lupa.” sahut si gadis yang masih menganggap lucu celotehan sang gebetan.

Salah satu sudut bibir sang adam kini tertarik, tersenyum miris mendengar jawaban gadis yang ia suka setahun yang lalu. Tidak aneh, mengingat sang dara jarang serius.

Sekon berikutnya ia bangkit dari duduknya, menghadap Evelyn seraya tersenyum simpul, “balik yuk, udah jam sepuluh.”

“Ck, ngapain coba ke sekolah ngotorin baju doang. Tau gitu gua titip absen aja,” oceh dara kelahiran 1996 itu, melangkah lebih dulu meninggalkan taman dibandingkan pemuda Pratama.

“Hari terakhir sekolah juga, besok udah enggak.”

“Lu sedih gak? Sedih lah, soalnya gak bisa ngerusuhin bekal gua lagi kan lu?” Lagi, gadis itu meledek pemuda yang enam sentimeter lebih tinggi darinya. “Sebelum pulang foto dulu ya, kenang-kenangan hari terakhir di sekolah bersama mas doi.”

Dan ajakan Evelyn disambut anggukan oleh Arga. Hingga si gadis sadar, jika ajakannya di hari itu benar-benar menjadi sebuah kenangan terakhir akan dirinya dan kisah cintanya di SMA.

⠀ ⠀ ⠀ ⠀ sunpeullowe