Demam
Sudah bukan hal aneh lagi jika mahasiswa mengalami demam tiap semesternya. Tertutama menekati UTS atau UAS-atau bahkan setelahnya. Ghina salah satunya.
Ujian tengah semester telah berakhir tiga hari yang lalu. Tapi efeknya masih terasa hingga sekarang. Demam. Sebuah efek dari begadang semalaman dan menjadi zombie di pagi hari. Terima kasih pada ujian teori, ujian praktikum, serta laporan-laporan yang telah membuatnya harus mengambil jatah absen sejak dua hari yang lalu.
Kuliah, nugas, tipes.
Ini baru pertama kalinya Ghina sakit sampai ia memutuskan untuk mengambil jatah absen. Kalau ditarik ke belakang, wajar saja mengingat ia kerja rodi demi laporan-laporan deangan deadline tidak manusiawi. Bahkan kalau belum kena omel Rosa atau Giandra, bisa-bisa ia tidak makan seharian.
Ngomong-ngomong soal Giandra, pemuda itu SAMA SEKALI gak mampir setelah tau dirinya sakit. Pas ditanya alasannya, jawaban sang adam malah, “gak ah, nanti kamu malah nularin virus lagi.”
Parah banget itu cowok, minta dipukul.
Entah apa yang terjadi di luar sana sampai menimbulkan kebisingan. Kepala Ghina pening seketika. Bangun karena berisik dan masih mengantuk efek dari obat yang diminum membuat si gadis berdecak kesal. Baru ia ingin berteriak, suara familiar pun menyapa indra pendengarannya.
“Jangan berisik kenapa sih, cewek gua nanti bangun.”
Ghina memfokuskan pandangannya, menatap sosok pemuda yang kini bersandar pada kusen pintu. “Gian?”
“Berisik ya? Sorry, aku bawa dua bocil soalnya.” Si gadis mengangguk lemah. Detik berikutnya, ia berusaha mendudukan dirinya di ranjang. Tentu kena omel Giandra. “Tidur aja lagi, kata Jeslyn kamu baru tidur 15 menit yang lalu.”
“Terus kamu?”
“Pulang.”
Kedua alis Ghina bertaut. Bisa-bisanya pacarnya itu menjawab dengan enteng. “Sini gak?!”
“Gak mau, virus.”
“Yang ada kamu yang virus. Dari luar gak cuci tangan, terus jenguk orang sakit.”
“Ya makanya aku mau langsung pulang.”
Dan bantal melayang menjadi adegan berikutnya. “Pacar sakit tuh disayang. Ini malah diajak ribut.”
Pemuda Hanantara pun terkekeh. Pada akhirnya pemuda itu tetap menuruti kemauan gadisnya. Ia menarik kursi belajar Ghina, menyimpannya di sebelah ranjang si gadis. Baru ia mau duduk, tapi gadis itu langsung menghujaninya dengan cubitan sayang.
“Kamu sakitnya bohongan ya?”
“Kalo nyubit kamu doang mah aku masih punya tenaga kali!”
Giandra menangguk pasrah. Mana tau kalau ia membuka mulut, kaki si gadis bergerak untuk menendangnya. “Masih demam gak?” tanyanya, pengalihan topik. “Tiduran lagi gih, emang gak pusing apa kamu kebangun padahal baru tidur?”
Gadis Alviera pun menghela napas pasrah. Yang ia bisa lakukan hanya menuruti ucapan sang pacar. Toh, memang kenyataanya ia masih mengantuk, mengingat efek dari obatnya memang separah itu. Hingga tangannya membawa tangan sang adam dan menyimpannya di puncak kepalanya.
“Ohh, jadi ini konteks 'pacar sakit tuh disayang',” sindir sang adam. Mau menyindir bagaimana pun ia tapi tetap mengusap pelan puncak kepala gadisnya. Yang disindir enggan menjawab. Tak ada gunanya juga meladeni cowok aneh kaya Giandra.
Usapan demi usapan membuat Ghina makin mengantuk. Perlahan, dwinetranya mulai terpejam. Niatnya untuk mengobrol lebih lama dengan sang pacar hilang seketika. Belum ada lima menit tapi kesadarannya benar-benar telah menipis. Yang ia ingat hanya ucapan dari Giandra sebelum ia benar-benar tertidur.
“Cepat sembuh, Ghina.” ㅤ ㅤ ㅤ
ㅤ ㅤ ㅤ Jarum jam menunjuk ke angka sembilan. Suasana kos tampak tenang padahal hari ini hari libur. Netra Ghina mengedar, mendapati keempat kawannya itu berkumpul di meja makan. Tanpa berpikir panjang ia lantas menduduki kursi kosong yang tersisa.
Ngomong-ngomong soal demam, ia sudah sembuh total. Kalau kata Megan sih udah dapet “obat” yang sebenarnya. Ia hanya berdecak sebagai respon ledekan gadis itu, tapi hati kecilnya mengiyakan.
“Kemarin siapa yang bagian beliin gua makanan sama obat pas gua sakit?” tanyanya to the point, “mau gua ganti.”
“Kak Gian.”
“Hah?” Jawaban Jeslyn membuat si penanya terkejut, “semuanya?” tanyanya lagi dan mendapat anggukan dari kawannya secara serentak. “Dari rabu sampai kemarin?” Ia masih bertanya, masih tak percaya walau jawaban 'iya' telah ia terima. “Kok bisa?”
“Awalnya gua minta tolong, soalnya apotek kan jauh.” Yang paling tua menjawab sembari memberikan sarapan pada si gadis. “Besoknya dia dateng-dateng bawa bubur,” lanjut Rosa, memberikan penjelasan lebih.
“Martabak juga kak, jangan lupa.” Megan menambahkan. Ya, ini sih gak penting.
Gadis dengan nama belakang Alviera pun hanya mengangguk. Masih terkejut dengan informasi yang ia dapat. Belum selesai sampai disana. Sahutan panjang dari Helena cukup membuatnya gagal menyantap sarapan dengan tenang.
“Satu lagi, Ghin. Tiap hari dia dateng buat mastiin lu udah minum obat terus istirahat. Bukan cuma kemarin doang.”
“KOK GAK BILANG???”
Emang ya Giandra Hanantara sukanya gerakan bawah tanah. ㅤ ㅤ ㅤ ㅡEnd, http10tion