SEMPRO

Celotehan asal juga tawa kini menghiasi koridor FASILKOM pagi hari ini. Bahkan si tokoh utama ikut meledeki dirinya sendiri, sama sekali tak memperlihatkan bahwa ia gugup. Padahal pemuda itu sempat mengalami demam tiga hari yang lalu karena sibuk memikirkan “besok gua sempro gimana ya...”

Benar. Pemuda dengan nama belakang Hanantara itu melaksanakan seminar proposal pada hari ini. Bahkan satu rumah HARUS mengosongkan jadwal mereka demi sang adam. Jadi, jangan heran jika koridor ramai seperti pasukan siap perang.

“Puji Tuhan, bentar lagi kita nambah list pengangguran bersertifikat di rumah.”

“Kagak ya, sembarangan aja lu bang kalo ngomong.”

Ghina menggeleng kecil. Ia sudah lelah mengingatkan mereka untuk tidak berisik-takut mengganggu yang sedang sempro. Terutama Haris dan Daffa yang tiada hentinya meledek sang kakak tingkat. Ya...namanya juga kumpulan anak laki-laki. Mana mungkin mereka bisik-bisik seperti para gadis saat sedang menggosip.

Waktu berjalan begitu cepat. Sudah 45 menit orang pertama masuk yang artinya mendekati jadwal sang adam untuk presentasi. Bahkan anak-anak yang lain pun jadi hening, tak kalah gugup dengan Giandra. Kecuali Haris sih, bagian dokumentasi kondisi kakak-kakaknya dengan ekspresi tidak dapat dijelaskan.

Jangan tanya seperti apa Ghina sekarang. Ia bahkan lebih gugup dibanding saat dia yang sempro.

“Ghina.”

Si empunya nama menoleh. Ia terkekeh dalam diam melihat air muka sang kekasih. Bahkan wajahnya lebih pucat jika dibandingkan dengan lima menit yang lalu. “Baru sempro, gimana presentasi di depan client,” sindir si gadis.

Netra kembarnya pun bertemu dengan milik sang kekasih. Ia tau jika sang adam sedang gugup. Maka dari itu, tangannya terulur untuk menepuk-nepuk bahu sang adam. Mau melakukan kontak fisik seperti pegangan tangan kan tidak mungkin.

“Ghin,” panggilnya sekali lagi, “kamu tau kan aku sayang banget sama kamu? Cinta banget sama kamu. Cewekku yang paling kusayang setelah ibuku. Pokoknya i love you so much buat Ananda Ghina Alviera.”

Si gadis tak dapat menahan senyumannya. Dua tahun ia menjalin hubungan dengan Giandra dan ini pertama kalinya pemuda itu menyerukan rentetan kalimat menggelikan.

“Ulang dong, mau aku video-in,” ledek si gadis membuat pemuda itu menyipitkan kedua matanya. Ghina kembali terkekeh, “abis aneh banget. Kamu mau sempro atau perang dunia sih?” Tak ada habisnya ia menggoda sang adam.

“Ya, mana tau kan aku abis masuk ruangan terus pingsan gak bangun-bangun. Mana kerjaannya cemburuan tapi gak pernah nyatain cinta sama sekali ke pacarnya. Makanya aku ngomong kayak gitu sebelum cewekku diambil orang,” cicitnya panjang, menyindir dirinya sendiri.

Dipukul lah bahu sang adam, “kalo ngomong sembarangan banget.”

Asli. Ini cowok hari ini aneh banget. Ghina sendiri bahkan tak tau harus bereaksi seperti apa.

Hingga nama sang adam dipanggil untuk memasuki ruangan. Jangan tanya betapa ricuhnya anak-anak menyemangati pemuda kelahiran Jakarta itu. Dan seruan Ghina lah yang membuat mereka makin ribut.

“GIAANN, SEMANGAT! I LOVE YOU TOO!

“Ghin, aku mati sekarang aja apa ya.”

“Sembarangan banget mulutnya! Udah sana masuk!!!”

Setelah Giandra masuk, maka Ghina lah yang menjadi sasaran empuk ledekan anak-anak. Seketika ia jadi malu sendiri dengan apa yang ia lakukan semenit yang lalu. ㅤ ㅤ ㅤ ㅡEnd, http10tion