Pradipta Bro's; Mancing dan Taruhan

Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit dari rumah hingga tempat pemancingan yang di kunjungi si kembar Pradipta. Sadewa kira ia perlu menunggu di parkiran sampai kedua kakaknya datang. Sayangnya ia masih harus turun ke area pemancingan dengan alasan terlalu berat untuk dibawa berdua. Ya memangnya seberat apa sih sampai dua kakaknya itu tidak kuat?

“Mas Juna, Kak Ino!” seru si bungsu saat melihat kedua kakaknya dari kejauhan. Tentu saja ia langsung menghampiri. “Seberat apa sih sampe lu ber-YA TUHAN, LU BERDUA MANCING APA NGERAMPOK?!”

Teriakan Sadewa sukses membuat mereka menjadi pusat perhatian. Ya gimana, baru saja si bungsu datang dan disuguhi dua kantong plastik besar hasil tangkapan yang sudah dibersihkan. Belum lagi masih ada satu jaring ikan yang menunggu giliran.

“Berapa kilo?” Tangan Arjuna pun bergerak, menampilkan kedua telapak tangannya kepada adiknya. “Sepuluh?”

“Lebih.”

Netra kembar milik Sadewa pun membulat sempurna. “DEMI?” tanyanya tak percaya. Dengan refleks pun ia bertepuk tangan, masih tak percaya apa yang terjadi.

“Coba aja lu bawa sendirian itu ikan,” ucap si sulung sambil menggeser dua kantong plastik ikan ke dekat Sadewa.

“Siapa yang menang?”

“Nanya mulu lo kaya pembantu.” Kini Lino yang bersuara. Sudah jelas siapa yang menang taruhannya. “Mana tau hoki gue gede kaya gini,” sambungnya sembari menatap hasil tangkapan.

Usai semua hasil pancingan dibersihkan, ketiganya pun langsung pulang. Taruhan yang kalah harus menraktir yang menang pun berganti menjadi bagian mengolah sepuluh kilo ikan. Ya kalau harus traktir juga, dompet Juna pasti sedang menangis saat ini.

“Jadi, sepuluh kilo mau diapain?”

Dan, ya, sepertinya mereka akan mabuk ikan selama sebulan.