LDR

Sudah bukan hal aneh lagi jika Ia dan Giandra harus merasakan LDR Jakarta-Bogor selama libur kuliah. Wajar. Selama liburan juga biasanya mereka jarang berkomunikasi. Kalau kata Gian sih, kapan lagi kumpul sama keluarga sebelum punya keluarga sendiri. Paling-paling di akhir pekan sang adam mampir ke rumahnya dan lanjut ke puncak.

Tapi liburan semester kali ini beda. Selama masa libur, sang adam sibuk dengan liburan bersama gengnya. Awalnya sih Ghina biasa aja, paling ngambek-ngambek dikit karena iri saat sang pacar pamer. Lama-lama ia kangen. Beneran kangen sampai ngespam roomchat Giandra.

Tak hanya itu. Ghina JARANG BANGET ngirim foto ke pacarnya. Jadi gak heran kalau respon Giandra malah kamu makan apa semalem? kayaknya salah makan atau kamu abis kepentok ya? tiap dia ngepap. Emang kalau punya pacar gak peka mah susah.

Dan hari ini, belum ada satu pun pesan masuk dari kontak sang adam. Ia jadi uring-uringan, mirip anak SMA baru jatuh cinta. Sekarang hampir tengah malam dan status online terlihat jelas ketika ia mampir ke roomchat pacarnya. Dahinya menyerit, tapi jarinya bergerak lebih cepat untuk menekan tombol panggilan.

“Kok belum tidur?” Kalimat pertama yang Ghina terima setelah sang adam menghilang tanpa kabar.

“Harusnya aku gak sih yang nanya kayak gitu ke kamu?”

“Aku baru bangun,” jawab sang adam santai. Jelas Ghina kembali ngerutkan dahi. Bingung. “Ini aku baru makan, mau liat?” lanjut sang lawan bicara membuat si gadis makin heran.

Video call?

“Boleh.” “Tapi bentar, aku pake baju dulu.”

Detik itu juga Ghina ingin berteriak “KAMU TUH ABIS NGAPAIN??” tentu saja ia urungkan.

Panggilan suara pun kini beralih menjadi panggilan video. Layar milik Ghina pun menampilkan sosok yang membuatnya uring-uringan seharian ini. “Selamat malam cewekku,” sapa pemuda di sebrang sana.

“Apaan banget sih.” Si gadis merotasikan bola matanya. Salting. “Kamu abis ngapain sampe izin pake baju dulu?” Dan, ya, ujung-ujungnya ditanyakan juga oleh Ghina. Pasalnya, sang adam kini berbalut kaos putih serta kemeja yang dijadikan outer.

“Aku pake baju tipis, nanti kamu salah fokus.”

“Gak ya!” elaknya cepat. Sekarang malah ia jadi fokus akan jawaban sang adam. Tak lama ia menggeleng pelan, kembali fokus pada sang kekasih, “kok bisa baru bangun?” si gadis kembali melontarkan pertanyaan.

Giandra yang masih mengunyah makanannya pun menjawab, “abis berenang sama anak-anak. Terus, aku ketiduran pas anak-anak beli makanan.” Alasan klasik, tapi Ghina tetap percaya. “Kamu laper gak? Bikin mie gih biar makan bareng.”

Decakan kesal pun kini dilayangkan si gadis. “Kamu kalo mau ngegagalin diet aku gak gitu caranya.”

Lawan bicaranya pun terkekeh disela-sela acara makannya. Gimana pun juga sang adam tau jika kata diet hanya menyembunyikan rasa malas Ghina untuk turun ke dapur. “Kamu ngapain belum tidur?” tanya sang adam mengalihkan pembicaraan.

“Nungguin chat dari kamu.” Kalimat itu terlontar begitu saja dari labium si gadis. Kalimat yang sukses membuat sang adam mengalihkan pandangannya dari makanan.

“Kenapa gak chat duluan?”

Sang puan berpikir sejenak. Kalau alasan jujurnya, tentu saja gengsi. Ghina akui bahwa gengsinya tinggi. Lantas ia menjawab, “takut ganggu.”

Pemuda itu tertawa kecil, tanpa suaraㅡmengingat teman-temannya yang sudah tertidur. Sang adam dengan cepat menyelesaikan makan malam yang terlalu malam. Tak lama ia izin untuk buang sampah serta mengambil air mineral.

Keduanya hening. Giandra yang sibuk merapikan sisa sampah yang berserakan dan Ghina yang hanya melihat tingkah sang adam di balik layar. Tak berniat bersuara, membuka obrolan baru atau melanjutkan obrolan sebelumnya.

“Gian,” panggil si gadis pelan, sang adam hanya melirik sebagai jawaban-dia sedang minum. Gadis Alviera berpikir sejenak, kemudian berkata, “aku kangen.”

Tak ada respon sedikit pun dari sang adam. Beberapa sekon selnjutnya pemuda itu yang mendekati kamera, juga jarinya yang mengotak-atik layar ponselnya. “Barusan ngomong apa, Ghin? Jaringan disini jelek banget deh.”

Ucapan sang adam membuat si gadis mengerucutkan bibirnya. Sudah menurunkan gengsi tapi jaringan malah tidak bersahabat. Ghina menghela napas panjang sebelum mengulang perkataanya. “Giandra, Ghina kangen,” ucap si gadis sembari berharap jika tak ada lagi masalah jaringan.

Detik berikutnya, pemuda itu melukis senyuman di wajahnya, diikuti gelak tawa sebagai penutup. “Sip, udah kurekam.”

Mata Ghina membulat sempurna. Mana kepikiran kalau ternyata sang kekasih mencari alat perekam, bukan mengecek jaringan atau apa pun itu. “Parah banget!”

“Kapan lagi kan cewekku bilang kangen,” ucap sang adam yang masih tersenyum lebar, “terus kalo kangen aku harus ngapain? Jogja-Bogor gak kayak Jakarta-Bogor.”

Yang ditanya hanya dapat mengendus kesal. Memang benar apa yang dikatakan pacarnya itu. Mau memintanya pulang sekarang juga tidak mungkin. Apalagi mau minta peluk. Berakhir si gadis kembali mengerucutkan bibirnya.

“Bogor dingin,” celetuknya asal.

“Terus?”

“Mau minta peluk.” Ghina udah gak tau kemana pergi gengsinya sekarang.

Giandra mengalihkan pandangannya. Salah tingkah mendengar permintaan gadisnya. Wajar sih kalau sang adam salah tingkah. Kontak fisik mereka selama ini hanya sebatas rangkulan atau pegangan tangan, itu pun bisa dihitung jari.

“Iya, nanti abis aku nyampe Jakarta.”

“Jakarta panas.”

“Yaudah aku langsung ke Bogor deh. Bogor kan dingin tuh.”

“Udah gak pengen lagi pelukan sama kamu.”

Berbagai alasan pun Ghina lakukan, mana semuanya ditanggapi sama pacarnya. Bahkan wajahnya terasa panas, takut-takut pemuda itu datang ke rumahnya dan merealisasikan permintaanya. Ya, terima kasih kepada mulut dan otaknya yang mulai tidak sinkron.

“Mending kamu tidur deh.” Gadis itu berusaha menghentikan topik yang sudah ia mulai. Dapat ia lihat bahwa sang adam menyipitkan matanya, menatap sinis kemudian berdecih.

Gadis Alviera terkekeh kecil melihat reaksi sang kekasih. Baru beberapa detik ia menertawai Giandra, ia mendelik kaget ke arah layar. “Kamu ngapain???”

Jelas ia kaget. Layarnya kini menampilkan pemuda Hanantara yang secara tiba-tiba melepas kemejanya. Seperti yang Giandra bilang sebelumnya, ia hanya menggunakan baju tipis. Jadi, jangan tanyakan keadaan Ghina sekarang.

“Katanya suruh tidur,” sahut Giandra enteng. Sang adam kini menyampirkan kemejanya pada kursi yang ia duduki. Ia kembali menatap kearah layar sembari tersenyum, “kita pelukan aja dalam mimpi.” Celetukan asal pun kembali terlontar diantara percakapan mereka. “Selamat tidur cewekku, mimpi indah.”

Sambungan pun terputus tepat setelah sang adam menyelesaikan ucapannya. Yang jadi masalah, apa iya Ghina bisa tidur cepat malam ini? Tentu saja tidak kawan-kawan. ㅤ ㅤ ㅤ ㅡEnd, http10tion