Evelyn Special Day

Jemari gadis Anindita kembali memijit pelipisnya. Hari spesialnya hanya dipenuhi dengan pertanyaan, “ini anak tiga bakal ngapain?”, “gua bakal dikerjain mereka gak ya?”, “kenapa sih gua harus temenan sama mereka???”, dan mungkin terlalu banyak jika harus disebutkan satu persatu.

“Mas,” panggil sang dara pada temannya yang paling waras di grup mereka, “bukannya mbak Nana juga ulang tahun?”

Yang ditanya mengangguk, “udah izin kok,” jawab sang adam yang masih sibuk dengan dekorasi untuk si gadis, “lagi pula kak Nana juga lagi ngerayain sama temen-temennya.”

“Kok lu nurut sih sama Radit?” tanya Evelyn, lagi.

Adimas terkekeh kecil, “Namanya juga temen.”

Tak ada suara setelah jawaban dari Dimas terlontar. Hingga tak sadar jika jarum jam telah menunjuk ke angka delapan dan...

“MET MALEM GUYS, MAS RADIT DATANG~!”

...nah ini biang masalahnya.

Evelyn memutar bola matanya malas. Netranya kini beralih pada tangan kosong milik dua pemuda yang baru datang. Dahinya berkerut, “katanya kue dari lu pada.”

Bukan. Evelyn bukan mengharapkan kue dari ketiga temannya. Hanya saja mereka jarang bercanda untuk masalah seperti ini, ya, walau ketikan mereka terlihag seperti candaan.

“JIAKH, PENGEN YAA~” pukulan kecil kini mendarat mulus tepat di bahu Radit, tentu pelakunya adalah gadis yang berulang tahun. “Cewek tenaganya kaya kuli,” cibirnya pelan, “nyusul kuenya, paling bentar lagi.”

Terkadang memang gengnya yang satu ini penuh akan tanda tanya, terutama Radit dengan jalan pikiran yang tak mudah ditebak. Belum lagi Adimas yang menurut Evelyn salah memilih circle pertemanan. Juga Bima yang kadang waras walau lebih sering jadi partner ketidak warasan seorang Raditya Zidan.

Bunyi bel rumah menghentikan aktifitas empat serangkai itu. Saling berpandangan dengan pertanyaan yang sama di kepala.

“Ambil gih, Lyn,” ucap Radit-walau lebih cocok dibilang perintah-pada Evelyn.

“Kok gua?!”

“Ya kan rumah lu,” sahut Radit membuat lawan bicaranya berdecak.

Tak ada yang salah dengan ucapan pemuda kelebihan kalsium itu. Tapi tetap saja, mau kesal juga Radit yang ngomong. Pada akhirnya ia tetap melakukan sesuai ucapan sang adam.

“Malam, ada yang bisaㅡLOH, ARGA?” Netra kembarnya membulat sempurna.

Sosok dibalik pintu pun mengangkat kotak putih berlogo toko kue favorit Evelyn di tangannya, ditambah senyuman kecil yang ikut mengembang di wajah manis milik sang adam. Devian Arga Pratama, pemuda yang ia rindukan sebulan terakhir.

Long time not see, Evelyn.”

Rasanya Evelyn ingin menangis detik itu juga. Tapi apa daya ketiga curut di belakangnya malah mengacaukan suasana sendu antara dua insan yang tak bertemu sejak enam tahun silam.

Ledakan dari party popper serta teriakan selamat ulang tahun membuat sang puan mengepalkan tangannya, menahan diri untuk tidak memukul mereka. Confetti pun mulai bertebaran, bahkan telah menjadi hiasan rambut di kepala Evelyn.

“HAPPY BIRTHDAY EVELYN!!!”

“LU PADA NGERUSUH AJA SIH!”