Cemburu
Kalau ditanya apa yang Ghina benci dari Giandra, jawabannya saat pacarnya itu mode cemburu. Sebenarnya, ia sudah sadar jika pemuda itu cemburuan, jauh sebelum mereka berpacaranㅡmengingat masa PDKT mereka cukup panjang. Tapi makin menjadi ketika mereka berpacaran.
Memang sih, cemburu tanda cinta, marah tandanya sayang. Itu kalau kata Zivilia. Tapi kalau kata Ghina, Giandra rese kalau mode cemburu. Terutama oknum yang bikin dia cemburu tinggal serumah alias Raditya Zidan, kakak tingkat kesayangan Giandra. Jadi siap-siap aja dua minggu mereka gak ketemu.
Giandra itu tipe yang tak akan pernah membahas masalahnya ke orang lain, kemudian menghindar dengan alasan hibernasi. Mirip silent treatment, tapi tidak separah itu. Iya, gak parah karena Ghina juga melakukan hal yang sama. Sebenarnya bukan menghindar, tapi mereka sama sekali gak tau harus bahas kayak gimana.
Dan hari ini, genap seminggu mereka saling menghindar. Berakhir gadis Alviera lah yang pergi ke gedung Fakultas Ilmu Komputer tanpa sepengetahuan sang adam. Mari berterima kasih pada Daffa yang siap sedia menjadi tangan kanannya-tentu saja tidak gratis.
“Udah aku bilang jangan nongkrong di fasilkom walau disana ada Daffa apalagi bang Radit,” omel sang adam.
Dari ketemu di kantin Fakultas Ilmu Komputer sampai mereka udah pindah tempat, yang diomongin masih sama. Jangan nongkring di FASILKOM. Ya, kalo Giandra bukan mode cemburu sih Ghina juga ogah berkunjung apalagi berdiam diri lama-lama ke gedung yang 75% isinya laki-laki.
“Ya kan kamu di fasilkom, masa aku mainnya ke gedung FEB.”
“Kenapa harus FEB? Mau nyamperin mantan gebetan kamu?”
SALAH MULU.
Ghina menatap malas sang kekasih. Bisa-bisanya ada orang ngomel-ngomel tapi makan jalan terus. Rupanya cemburu juga butuh tenaga. Ia menghela napas panjang. Kalau gini ceritanya, lebih baik ia ikut makan.
Keduanya saling diam. Mungkin ada sekitar lima menit mereka fokus pada makan siang mereka, sesekali melirik sang lawan bicara. Hingga pertanyaan Giandra memecah keheningan yang mereka buat.
“Kamu bisa gak jangan deket-deket sama Bang Radit?”
“Kamu cemburu?” tanya si gadis to the point. Yang ditanya pun hanya menatap gadisnya, enggan untuk menjawab. “Kan kak Radit temen kamu. Toh, kak Radit juga udah punya pacar.”
Dapat Ghina lihat bahwa sang adam kini mengalihkan pandangannya, mencari alasan selogis dan semudah mungkin agar dapat ia terima. Gadis Alviera pun mulai menumpu kepalanya dengan tangan, menunggu alasan apa yang akan ia jelaskan padanya.
“Jujur aja, aku awalnya gak masalah kalo kamu minta tolong sama bang Radit atau sebaliknya. Aku juga gak masalah kamu kamu ngobrol akrab kaya temen lama. Cuma...” ia memberi jeda pada ucapannya, “cuma kalo aku inget bang Radit pernah naksir kamu, pernah nembak kamu, terus sering bercanda 'mending pacaran sama gua daripada sama Gian', apa aku gak kepikiran?”
Pandangan mereka beradu. Namun, si gadis tetap diam, belum berniat untuk berkomentar. Bagaimana pun juga, Ghina tau jika masih banyak yang ingin sang adam ucapkan. Hanya saja ia tak dapat mengolahnya menjadi kata-kata karena terlalu lama memendamnya.
“Bukannya aku gak percaya sama temenku apalagi pacarku sendiri. Namanya setan kan gak ada yang tau. Apalagi dulu kamu nolak bang Radit dengan alasan baru kenal. Lah sekarang, udah kenal, deket, tau-taunya kamu lebih nyaman samaㅡ
Ucapan Giandra pun terputus karena kekasihnya itu menyuapi makanan miliknya secara tiba-tiba. Sedikit tersedak karena mendapat perlakuan aneh dari gadisnya. “Makan yang banyak ya pacarku,” ucap si gadis diakhiri dengan kekehan.
Lirikan sinis pun dilayangkan sang adam. Bibirnya mengerucut. “Aku lagi serius, Ghinaaa!”
Sudut bibir Ghina pun tertarik. Ia tak sanggup menahan gemas. Mana tau kalau ternyata selama ini pacarnya itu overthinking sampai-sampai memikirkan worst-case scenario tentang hubungan mereka.
“Aku juga serius, Giaann,” balas si gadis tak mau kalah. Ia kembali terkekeh sembari mengacak pelan rambut kekasihnya. “Kamu makan yang banyak. Tenaga kamu pasti abis buat cemburu ke kak Radit.”
“Males ah.”
Lagi, Ghina hanya bisa terkekeh melihat kelakuan pacarnya. Ia sudah menggap selesai urusan Giandra dan cemburunya. Sekarang waktunya ia memberi asupan makanan untuk bayi besarnya itu. ㅤ ㅤ ㅤ ㅡEnd, http10tion