<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>Zia&#39;s</title>
    <link>https://http10tion.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Mon, 06 Apr 2026 08:34:16 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Tentang Ghina, Giandra, dan Bogor</title>
      <link>https://http10tion.writeas.com/tentang-ghina-giandra-dan-bogor?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Memasuki tahun kedua Ghina berpacaran dengan Giandra, tapi si gadis belum pernah mempertemukan pemuda itu dengan keluarganya. Bukannya ia tak mau, tapi memang keduanya sibuk kuliah. Belum lagi Giandra magang, calon-calon budak korporat sudah tercium dari jaman kuliah.!--more--&#xA;&#xA;Weekend kali ini, keluarga dari gadis Alviera mengadakan kumpul keluarga. Biasa, acara tahunan. Ghina udah bilang pacarnya dari jauh-jauh hari dan pemuda itu mau mengantarnya dengan alasan hemat ongkos. Niatnya sih nganter-kenalan-pulang, gak enak karena ini acara keluarga besar. Tapi apa daya ibu si gadis berkata lain&#xA;&#xA;“Ghin, yang bener aja. Masa iya mama kamu nyuruh aku main ke rumah.” &#xA;&#xA;Giandra memasang wajah memelas pada si gadis. Yang Ghina tau, Ghina adalah pacar pertamanya. Jadi, wajar saja jika pemuda itu langsung lemas mendengar perkataanya.&#xA;&#xA;“Loh, tadi aku mau pulang sendiri, tapi kamu maksa mau nganterin.” Ghina menatap pemuda di depannya bingung. “Pas laporan ke mama, mama pengen ketemu kamu.”&#xA;&#xA;Pemuda Hanantara tampak mencari jawaban-atau sebuah mungkin alasan. Sedangkan gadis di depannya malah sibuk menyantap bubur miliknya. &#xA;&#xA;Ghina jadi gemas sendiri melihat pacarnya kebingungan. Namun, ia tak mungkin membuang banyak waktu lagi. “Yaudah, anterin aku ke stasiun aja,” ucap si gadis membuat Giandra tersedak.&#xA;&#xA;“Gak gitu, Ghin,”&#xA;&#xA;“Depok ke Bogor deket, kok. Nanti aku tinggal minta kak Jihan jemput di stasiun.”&#xA;&#xA;Giandra menghela napas pelan. “Yaudah. Ayo berangkat.&#34;&#xA;⠀&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;⠀&#xA;Acara keluarga gadis Alviera pun telah usai sejak sore tadi. Kalau kata mamanya sih ada untungnya Ghina bawa pacar, ada bala bantuan untuk membersihkan rumah. Ditambah pemuda itu langsung bergerak tanpa disuruh atau disindir terlebih dahulu. Giandra dan bersih-bersih memang tidak bisa dipisahkan.&#xA;&#xA;Kalau ditanya apa yang harus diceritakan, ya, tidak ada. Hanya tentang Giandra dan interview mendadak selama enam jam non stop. Ada aja yang berusaha digali keluarganya tentang pemuda itu. Jangan tanya kemana perginya si gadis, tentu ia menghilang, enggan membantu sang adam yang diselimuti pertanyaan-pertanyaan tidak berguna.&#xA;&#xA;Malamnya, Ghina membawa sang adam ke tempat favoritnya selama ia sekolah sampai sekarang. Suatu kios yang berdiri cukup lama serta soto mie yang mereka jual. Bermodalkan sepeda motor yang dibawa sang adam, keduanya sampai dalam waktu lima belas menit.&#xA;&#xA;Tentu saja si gadis harus melewati rintangan seperti omelan sang ibu, omelan sang kakak, juga omelan pacarnya. Ya, orang waras mana yang memilih makan di luar disaat ibunya masak berbagai macam lauk. Sebenarnya Ghina mau sih makan di rumah, cuma ia lebih kangen makan soto mie di Bogor langsung dibanding masakan ibunya. Toh, ia juga sudah makan lauk yang sama tadi siang.&#xA;&#xA;&#34;Udah sama yang baru, teh?&#34; ledek si pemilik toko saat mengantarkan pesanannya. Yang diledek pun terkekeh kemudian mengucapkan terima kasih bersamaan dengan sang adam.&#xA;&#xA;&#34;Ohh, banyak kenangannya sama mantan toh.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Soto mienya enak, Giandra,&#34; koreksi si gadis yang telah menyantap miliknya. &#34;Dulu tuh makan disini selalu rame-rame sama anak kelas, ada kali sepuluh orang. Sekalinya ngajak mantan makan bareng, besoknya putus.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, nanti sama aku pasti makan soto mie terus tiap ke Bogor,&#34; sahut sang adam membuat gadisnya terkekeh.&#xA;&#xA;&#34;Emang kamu gak bosen?&#34;&#xA;&#xA;Sang adam langsung menggeleng, &#34;kan kita gak makan soto mie tiap hari.&#34; &#xA;&#xA;Keduanya kini terdiam, lebih memilih untuk menyantap makanan di depannya sebelum dingin. Sesekali si gadis melirik kearah sang kekasih, tersenyum bangga ketika ia mendapati pemuda itu menikmati makanannya.&#xA;&#xA;&#34;Tadi ngobrolin apa sama papa?&#34; tanya si gadis memecah keheningan.&#xA;&#xA;&#34;Katanya kalo main lagi, papamu mau bikin ujian militer buat aku.&#34;&#xA;&#xA;Gadis itu mendelik. Ini ayahnya ada-ada aja deh. &#34;Terus kamu jawab apa?&#34;&#xA;&#xA;Yang ditanya berpikir sejenak, &#34;aku jawab, &#39;gak bisa sekarang aja om?&#39; eh malah gak boleh pulang sampai acara kelar.&#34; Jangan tanya ekspresi Ghina sekarang. Bisa-bisa cowok itu malah nantangin. &#34;Terus kelar bersih-bersih papa kamu bilang, &#39;oke, kamu lulus ujian militer&#39; lah aku bingung.&#34;&#xA;&#xA;Tawa si gadis pun meledak kala sang adam menyelesaikan ceritanya. Serius, ini yang teraneh dari yang teraneh. Ia tak habis pikir dengan &#39;ujian militer&#39; yang entah apakah Giandra disuruh bersih-bersih atau ada ujian tersembunyi selama mereka di rumah.&#xA;&#xA;Senyumnya kian mengembang mengingat rentetan kisah yang terjadi setahun belakangan. Yang jelas, ia tak pernah membayangkan kehidupannya sebagai mahasiswinya didominasi kisah manis.&#xA;&#xA;&#34;Gian,&#34; panggil si gadis, &#34;makasih ya buat hari ini.&#34;&#xA;&#xA;Sang empunya nama pun mengangguk. &#34;Aku juga mau bilang makasih,&#34; sahut sang adam. Pandangan mereka beradu, saling menyalurkan perasaan mereka yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Hingga ucapan sang adam yang membuyarkan adegan romantis malam ini. &#xA;&#xA;&#34;-atas makanannya hari ini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Udah lah, aku males ngomong sama kamu.&#34;&#xA;&#xA;Kalau punya pacar yang love language nya &#34;ngajak ribut&#34; ya begini. Gak bisa diajak romantis.&#xA;ㅤ&#xA;ㅤ&#xA;ㅤ&#xA;ㅡEnd,&#xA;http10tion]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Memasuki tahun kedua Ghina berpacaran dengan Giandra, tapi si gadis belum pernah mempertemukan pemuda itu dengan keluarganya. Bukannya ia tak mau, tapi memang keduanya sibuk kuliah. Belum lagi Giandra magang, calon-calon budak korporat sudah tercium dari jaman kuliah.</p>

<p><em>Weekend</em> kali ini, keluarga dari gadis Alviera mengadakan kumpul keluarga. Biasa, acara tahunan. Ghina udah bilang pacarnya dari jauh-jauh hari dan pemuda itu mau mengantarnya dengan alasan hemat ongkos. Niatnya sih nganter-kenalan-pulang, gak enak karena ini acara keluarga besar. Tapi apa daya ibu si gadis berkata lain</p>

<p>“Ghin, yang bener aja. Masa iya mama kamu nyuruh aku main ke rumah.”</p>

<p>Giandra memasang wajah memelas pada si gadis. Yang Ghina tau, Ghina adalah pacar pertamanya. Jadi, wajar saja jika pemuda itu langsung lemas mendengar perkataanya.</p>

<p>“Loh, tadi aku mau pulang sendiri, tapi kamu maksa mau nganterin.” Ghina menatap pemuda di depannya bingung. “Pas laporan ke mama, mama pengen ketemu kamu.”</p>

<p>Pemuda Hanantara tampak mencari jawaban-atau sebuah mungkin alasan. Sedangkan gadis di depannya malah sibuk menyantap bubur miliknya.</p>

<p>Ghina jadi gemas sendiri melihat pacarnya kebingungan. Namun, ia tak mungkin membuang banyak waktu lagi. “Yaudah, anterin aku ke stasiun aja,” ucap si gadis membuat Giandra tersedak.</p>

<p>“Gak gitu, Ghin,”</p>

<p>“Depok ke Bogor deket, kok. Nanti aku tinggal minta kak Jihan jemput di stasiun.”</p>

<p>Giandra menghela napas pelan. “Yaudah. Ayo berangkat.”
⠀</p>

<hr/>

<p>⠀
Acara keluarga gadis Alviera pun telah usai sejak sore tadi. Kalau kata mamanya sih ada untungnya Ghina bawa pacar, ada bala bantuan untuk membersihkan rumah. Ditambah pemuda itu langsung bergerak tanpa disuruh atau disindir terlebih dahulu. <em>Giandra dan bersih-bersih memang tidak bisa dipisahkan.</em></p>

<p>Kalau ditanya apa yang harus diceritakan, ya, tidak ada. Hanya tentang Giandra dan interview mendadak selama enam jam <em>non stop</em>. Ada aja yang berusaha digali keluarganya tentang pemuda itu. Jangan tanya kemana perginya si gadis, tentu ia menghilang, enggan membantu sang adam yang diselimuti pertanyaan-pertanyaan tidak berguna.</p>

<p>Malamnya, Ghina membawa sang adam ke tempat favoritnya selama ia sekolah sampai sekarang. Suatu kios yang berdiri cukup lama serta soto mie yang mereka jual. Bermodalkan sepeda motor yang dibawa sang adam, keduanya sampai dalam waktu lima belas menit.</p>

<p>Tentu saja si gadis harus melewati rintangan seperti omelan sang ibu, omelan sang kakak, juga omelan pacarnya. Ya, orang waras mana yang memilih makan di luar disaat ibunya masak berbagai macam lauk. <em>Sebenarnya Ghina mau sih makan di rumah, cuma ia lebih kangen makan soto mie di Bogor langsung dibanding masakan ibunya. Toh, ia juga sudah makan lauk yang sama tadi siang.</em></p>

<p>“Udah sama yang baru, teh?” ledek si pemilik toko saat mengantarkan pesanannya. Yang diledek pun terkekeh kemudian mengucapkan terima kasih bersamaan dengan sang adam.</p>

<p>“Ohh, banyak kenangannya sama mantan toh.”</p>

<p>“Soto mienya enak, Giandra,” koreksi si gadis yang telah menyantap miliknya. “Dulu tuh makan disini selalu rame-rame sama anak kelas, ada kali sepuluh orang. Sekalinya ngajak mantan makan bareng, besoknya putus.”</p>

<p>“Iya, nanti sama aku pasti makan soto mie terus tiap ke Bogor,” sahut sang adam membuat gadisnya terkekeh.</p>

<p>“Emang kamu gak bosen?”</p>

<p>Sang adam langsung menggeleng, “kan kita gak makan soto mie tiap hari.”</p>

<p>Keduanya kini terdiam, lebih memilih untuk menyantap makanan di depannya sebelum dingin. Sesekali si gadis melirik kearah sang kekasih, tersenyum bangga ketika ia mendapati pemuda itu menikmati makanannya.</p>

<p>“Tadi ngobrolin apa sama papa?” tanya si gadis memecah keheningan.</p>

<p>“Katanya kalo main lagi, papamu mau bikin ujian militer buat aku.”</p>

<p>Gadis itu mendelik. Ini ayahnya ada-ada aja deh. “Terus kamu jawab apa?”</p>

<p>Yang ditanya berpikir sejenak, “aku jawab, &#39;gak bisa sekarang aja om?&#39; eh malah gak boleh pulang sampai acara kelar.” Jangan tanya ekspresi Ghina sekarang. Bisa-bisa cowok itu malah nantangin. “Terus kelar bersih-bersih papa kamu bilang, &#39;oke, kamu lulus ujian militer&#39; lah aku bingung.”</p>

<p>Tawa si gadis pun meledak kala sang adam menyelesaikan ceritanya. Serius, ini yang teraneh dari yang teraneh. Ia tak habis pikir dengan &#39;ujian militer&#39; yang entah apakah Giandra disuruh bersih-bersih atau ada ujian tersembunyi selama mereka di rumah.</p>

<p>Senyumnya kian mengembang mengingat rentetan kisah yang terjadi setahun belakangan. Yang jelas, ia tak pernah membayangkan kehidupannya sebagai mahasiswinya didominasi kisah manis.</p>

<p>“Gian,” panggil si gadis, “makasih ya buat hari ini.”</p>

<p>Sang empunya nama pun mengangguk. “Aku juga mau bilang makasih,” sahut sang adam. Pandangan mereka beradu, saling menyalurkan perasaan mereka yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Hingga ucapan sang adam yang membuyarkan adegan romantis malam ini.</p>

<p>”-atas makanannya hari ini.”</p>

<p>“Udah lah, aku males ngomong sama kamu.”</p>

<p>Kalau punya pacar yang <em>love language</em> nya <strong>“ngajak ribut”</strong> ya begini. Gak bisa diajak romantis.
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅡEnd,
<em>http10tion</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://http10tion.writeas.com/tentang-ghina-giandra-dan-bogor</guid>
      <pubDate>Sat, 05 Feb 2022 10:30:00 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>SEMPRO</title>
      <link>https://http10tion.writeas.com/sempro?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Celotehan asal juga tawa kini menghiasi koridor FASILKOM pagi hari ini. Bahkan si tokoh utama ikut meledeki dirinya sendiri, sama sekali tak memperlihatkan bahwa ia gugup. Padahal pemuda itu sempat mengalami demam tiga hari yang lalu karena sibuk memikirkan &#34;besok gua sempro gimana ya...&#34;&#xA;&#xA;Benar. Pemuda dengan nama belakang Hanantara itu melaksanakan seminar proposal pada hari ini. Bahkan satu rumah HARUS mengosongkan jadwal mereka demi sang adam. Jadi, jangan heran jika koridor ramai seperti pasukan siap perang.!--more--&#xA;&#xA;&#34;Puji Tuhan, bentar lagi kita nambah list pengangguran bersertifikat di rumah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kagak ya, sembarangan aja lu bang kalo ngomong.&#34;&#xA;&#xA;Ghina menggeleng kecil. Ia sudah lelah mengingatkan mereka untuk tidak berisik-takut mengganggu yang sedang sempro. Terutama Haris dan Daffa yang tiada hentinya meledek sang kakak tingkat. Ya...namanya juga kumpulan anak laki-laki. Mana mungkin mereka bisik-bisik seperti para gadis saat sedang menggosip.&#xA;&#xA;Waktu berjalan begitu cepat. Sudah 45 menit orang pertama masuk yang artinya mendekati jadwal sang adam untuk presentasi. Bahkan anak-anak yang lain pun jadi hening, tak kalah gugup dengan Giandra. Kecuali Haris sih, bagian dokumentasi kondisi kakak-kakaknya dengan ekspresi tidak dapat dijelaskan.&#xA;&#xA;Jangan tanya seperti apa Ghina sekarang. Ia bahkan lebih gugup dibanding saat dia yang sempro. &#xA;&#xA;&#34;Ghina.&#34;&#xA;&#xA;Si empunya nama menoleh. Ia terkekeh dalam diam melihat air muka sang kekasih. Bahkan wajahnya lebih pucat jika dibandingkan dengan lima menit yang lalu. &#34;Baru sempro, gimana presentasi di depan client,&#34; sindir si gadis.&#xA;&#xA;Netra kembarnya pun bertemu dengan milik sang kekasih. Ia tau jika sang adam sedang gugup. Maka dari itu, tangannya terulur untuk menepuk-nepuk bahu sang adam. Mau melakukan kontak fisik seperti pegangan tangan kan tidak mungkin.&#xA;&#xA;&#34;Ghin,&#34; panggilnya sekali lagi, &#34;kamu tau kan aku sayang banget sama kamu? Cinta banget sama kamu. Cewekku yang paling kusayang setelah ibuku. Pokoknya i love you so much buat Ananda Ghina Alviera.&#34;&#xA;&#xA;Si gadis tak dapat menahan senyumannya. Dua tahun ia menjalin hubungan dengan Giandra dan ini pertama kalinya pemuda itu menyerukan rentetan kalimat menggelikan. &#xA;&#xA;&#34;Ulang dong, mau aku video-in,&#34; ledek si gadis membuat pemuda itu menyipitkan kedua matanya. Ghina kembali terkekeh, &#34;abis aneh banget. Kamu mau sempro atau perang dunia sih?&#34; Tak ada habisnya ia menggoda sang adam.&#xA;&#xA;&#34;Ya, mana tau kan aku abis masuk ruangan terus pingsan gak bangun-bangun. Mana kerjaannya cemburuan tapi gak pernah nyatain cinta sama sekali ke pacarnya. Makanya aku ngomong kayak gitu sebelum cewekku diambil orang,&#34; cicitnya panjang, menyindir dirinya sendiri.&#xA;&#xA;Dipukul lah bahu sang adam, &#34;kalo ngomong sembarangan banget.&#34; &#xA;&#xA;Asli. Ini cowok hari ini aneh banget. Ghina sendiri bahkan tak tau harus bereaksi seperti apa.&#xA;&#xA;Hingga nama sang adam dipanggil untuk memasuki ruangan. Jangan tanya betapa ricuhnya anak-anak menyemangati pemuda kelahiran Jakarta itu. Dan seruan Ghina lah yang membuat mereka makin ribut.&#xA;&#xA;&#34;GIAANN, SEMANGAT! I LOVE YOU TOO!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ghin, aku mati sekarang aja apa ya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sembarangan banget mulutnya! Udah sana masuk!!!&#34;&#xA;&#xA;Setelah Giandra masuk, maka Ghina lah yang menjadi sasaran empuk ledekan anak-anak. Seketika ia jadi malu sendiri dengan apa yang ia lakukan semenit yang lalu.&#xA;ㅤ&#xA;ㅤ&#xA;ㅤ&#xA;ㅡEnd,&#xA;http10tion]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Celotehan asal juga tawa kini menghiasi koridor FASILKOM pagi hari ini. Bahkan si tokoh utama ikut meledeki dirinya sendiri, sama sekali tak memperlihatkan bahwa ia gugup. Padahal pemuda itu sempat mengalami demam tiga hari yang lalu karena sibuk memikirkan <em>“besok gua sempro gimana ya...”</em></p>

<p>Benar. Pemuda dengan nama belakang Hanantara itu melaksanakan seminar proposal pada hari ini. Bahkan satu rumah HARUS mengosongkan jadwal mereka demi sang adam. Jadi, jangan heran jika koridor ramai seperti pasukan siap perang.</p>

<p>“Puji Tuhan, bentar lagi kita nambah <em>list</em> pengangguran bersertifikat di rumah.”</p>

<p>“Kagak ya, sembarangan aja lu bang kalo ngomong.”</p>

<p>Ghina menggeleng kecil. Ia sudah lelah mengingatkan mereka untuk tidak berisik-<em>takut mengganggu yang sedang sempro</em>. Terutama Haris dan Daffa yang tiada hentinya meledek sang kakak tingkat. Ya...namanya juga kumpulan anak laki-laki. Mana mungkin mereka bisik-bisik seperti para gadis saat sedang menggosip.</p>

<p>Waktu berjalan begitu cepat. Sudah 45 menit orang pertama masuk yang artinya mendekati jadwal sang adam untuk presentasi. Bahkan anak-anak yang lain pun jadi hening, tak kalah gugup dengan Giandra. Kecuali Haris sih, bagian dokumentasi kondisi kakak-kakaknya dengan ekspresi tidak dapat dijelaskan.</p>

<p>Jangan tanya seperti apa Ghina sekarang. Ia bahkan lebih gugup dibanding saat dia yang sempro.</p>

<p>“Ghina.”</p>

<p>Si empunya nama menoleh. Ia terkekeh dalam diam melihat air muka sang kekasih. Bahkan wajahnya lebih pucat jika dibandingkan dengan lima menit yang lalu. “Baru sempro, gimana presentasi di depan <em>client</em>,” sindir si gadis.</p>

<p>Netra kembarnya pun bertemu dengan milik sang kekasih. Ia tau jika sang adam sedang gugup. Maka dari itu, tangannya terulur untuk menepuk-nepuk bahu sang adam. Mau melakukan kontak fisik seperti pegangan tangan kan tidak mungkin.</p>

<p>“Ghin,” panggilnya sekali lagi, “kamu tau kan aku sayang banget sama kamu? Cinta banget sama kamu. Cewekku yang paling kusayang setelah ibuku. Pokoknya <em>i love you so much</em> buat Ananda Ghina Alviera.”</p>

<p>Si gadis tak dapat menahan senyumannya. Dua tahun ia menjalin hubungan dengan Giandra dan ini pertama kalinya pemuda itu menyerukan rentetan kalimat menggelikan.</p>

<p>“Ulang dong, mau aku video-in,” ledek si gadis membuat pemuda itu menyipitkan kedua matanya. Ghina kembali terkekeh, “abis aneh banget. Kamu mau sempro atau perang dunia sih?” Tak ada habisnya ia menggoda sang adam.</p>

<p>“Ya, mana tau kan aku abis masuk ruangan terus pingsan gak bangun-bangun. Mana kerjaannya cemburuan tapi gak pernah nyatain cinta sama sekali ke pacarnya. Makanya aku ngomong kayak gitu sebelum cewekku diambil orang,” cicitnya panjang, menyindir dirinya sendiri.</p>

<p>Dipukul lah bahu sang adam, “kalo ngomong sembarangan banget.”</p>

<p>Asli. Ini cowok hari ini aneh banget. Ghina sendiri bahkan tak tau harus bereaksi seperti apa.</p>

<p>Hingga nama sang adam dipanggil untuk memasuki ruangan. Jangan tanya betapa ricuhnya anak-anak menyemangati pemuda kelahiran Jakarta itu. Dan seruan Ghina lah yang membuat mereka makin ribut.</p>

<p>“GIAANN, SEMANGAT! <em>I LOVE YOU TOO!</em>“</p>

<p>“Ghin, aku mati sekarang aja apa ya.”</p>

<p>“Sembarangan banget mulutnya! Udah sana masuk!!!”</p>

<p>Setelah Giandra masuk, maka Ghina lah yang menjadi sasaran empuk ledekan anak-anak. Seketika ia jadi malu sendiri dengan apa yang ia lakukan semenit yang lalu.
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅡEnd,
<em>http10tion</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://http10tion.writeas.com/sempro</guid>
      <pubDate>Sat, 05 Feb 2022 10:27:53 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>LDR</title>
      <link>https://http10tion.writeas.com/ldr?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Sudah bukan hal aneh lagi jika Ia dan Giandra harus merasakan LDR Jakarta-Bogor selama libur kuliah. Wajar. Selama liburan juga biasanya mereka jarang berkomunikasi. Kalau kata Gian sih, kapan lagi kumpul sama keluarga sebelum punya keluarga sendiri. Paling-paling di akhir pekan sang adam mampir ke rumahnya dan lanjut ke puncak.!--more--&#xA;&#xA;Tapi liburan semester kali ini beda. Selama masa libur, sang adam sibuk dengan liburan bersama gengnya. Awalnya sih Ghina biasa aja, paling ngambek-ngambek dikit karena iri saat sang pacar pamer. Lama-lama ia kangen. Beneran kangen sampai ngespam roomchat Giandra.&#xA;&#xA;Tak hanya itu. Ghina JARANG BANGET ngirim foto ke pacarnya. Jadi gak heran kalau respon Giandra malah kamu makan apa semalem? kayaknya salah makan atau kamu abis kepentok ya? tiap dia ngepap. Emang kalau punya pacar gak peka mah susah.&#xA;&#xA;Dan hari ini, belum ada satu pun pesan masuk dari kontak sang adam. Ia jadi uring-uringan, mirip anak SMA baru jatuh cinta. Sekarang hampir tengah malam dan status online terlihat jelas ketika ia mampir ke roomchat pacarnya. Dahinya menyerit, tapi jarinya bergerak lebih cepat untuk menekan tombol panggilan.&#xA;&#xA;&#34;Kok belum tidur?&#34; Kalimat pertama yang Ghina terima setelah sang adam menghilang tanpa kabar.&#xA;&#xA;&#34;Harusnya aku gak sih yang nanya kayak gitu ke kamu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku baru bangun,&#34; jawab sang adam santai. Jelas Ghina kembali ngerutkan dahi. Bingung. &#34;Ini aku baru makan, mau liat?&#34; lanjut sang lawan bicara membuat si gadis makin heran.&#xA;&#xA;&#34;Video call?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Boleh.&#34;&#xA;&#34;Tapi bentar, aku pake baju dulu.&#34;&#xA;&#xA;Detik itu juga Ghina ingin berteriak &#34;KAMU TUH ABIS NGAPAIN??&#34;  tentu saja ia urungkan. &#xA;&#xA;Panggilan suara pun kini beralih menjadi panggilan video. Layar milik Ghina pun menampilkan sosok yang membuatnya uring-uringan seharian ini. &#34;Selamat malam cewekku,&#34; sapa pemuda di sebrang sana.&#xA;&#xA;&#34;Apaan banget sih.&#34; Si gadis merotasikan bola matanya. Salting. &#34;Kamu abis ngapain sampe izin pake baju dulu?&#34; Dan, ya, ujung-ujungnya ditanyakan juga oleh Ghina. Pasalnya, sang adam kini berbalut kaos putih serta kemeja yang dijadikan outer.&#xA;&#xA;&#34;Aku pake baju tipis, nanti kamu salah fokus.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Gak ya!&#34; elaknya cepat. Sekarang malah ia jadi fokus akan jawaban sang adam. Tak lama ia menggeleng pelan, kembali fokus pada sang kekasih, &#34;kok bisa baru bangun?&#34; si gadis kembali melontarkan pertanyaan. &#xA;&#xA;Giandra yang masih mengunyah makanannya pun menjawab, &#34;abis berenang sama anak-anak. Terus, aku ketiduran pas anak-anak beli makanan.&#34; Alasan klasik, tapi Ghina tetap percaya. &#34;Kamu laper gak? Bikin mie gih biar makan bareng.&#34;&#xA;&#xA;Decakan kesal pun kini dilayangkan si gadis. &#34;Kamu kalo mau ngegagalin diet aku gak gitu caranya.&#34;&#xA;&#xA;Lawan bicaranya pun terkekeh disela-sela acara makannya. Gimana pun juga sang adam tau jika kata diet hanya menyembunyikan rasa malas Ghina untuk turun ke dapur. &#34;Kamu ngapain belum tidur?&#34; tanya sang adam mengalihkan pembicaraan.&#xA;&#xA;&#34;Nungguin chat dari kamu.&#34; Kalimat itu terlontar begitu saja dari labium si gadis. Kalimat yang sukses membuat sang adam mengalihkan pandangannya dari makanan.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa gak chat duluan?&#34;&#xA;&#xA;Sang puan berpikir sejenak. Kalau alasan jujurnya, tentu saja gengsi. Ghina akui bahwa gengsinya tinggi. Lantas ia menjawab, &#34;takut ganggu.&#34;&#xA;&#xA;Pemuda itu tertawa kecil, tanpa suaraㅡmengingat teman-temannya yang sudah tertidur. Sang adam dengan cepat menyelesaikan makan malam yang terlalu malam. Tak lama ia izin untuk buang sampah serta mengambil air mineral.&#xA;&#xA;Keduanya hening. Giandra yang sibuk merapikan sisa sampah yang berserakan dan Ghina yang hanya melihat tingkah sang adam di balik layar. Tak berniat bersuara, membuka obrolan baru atau melanjutkan obrolan sebelumnya.&#xA;&#xA;&#34;Gian,&#34; panggil si gadis pelan, sang adam hanya melirik sebagai jawaban-dia sedang minum. Gadis Alviera berpikir sejenak, kemudian berkata, &#34;aku kangen.&#34;&#xA;&#xA;Tak ada respon sedikit pun dari sang adam. Beberapa sekon selnjutnya pemuda itu yang mendekati kamera, juga jarinya yang mengotak-atik layar ponselnya. &#34;Barusan ngomong apa, Ghin? Jaringan disini jelek banget deh.&#34;&#xA;&#xA;Ucapan sang adam membuat si gadis mengerucutkan bibirnya. Sudah menurunkan gengsi tapi jaringan malah tidak bersahabat. Ghina menghela napas panjang sebelum mengulang perkataanya. &#34;Giandra, Ghina kangen,&#34; ucap si gadis sembari berharap jika tak ada lagi masalah jaringan.&#xA;&#xA;Detik berikutnya, pemuda itu melukis senyuman di wajahnya, diikuti gelak tawa sebagai penutup. &#34;Sip, udah kurekam.&#34; &#xA;&#xA;Mata Ghina membulat sempurna. Mana kepikiran kalau ternyata sang kekasih mencari alat perekam, bukan mengecek jaringan atau apa pun itu. &#34;Parah banget!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kapan lagi kan cewekku bilang kangen,&#34; ucap sang adam yang masih tersenyum lebar, &#34;terus kalo kangen aku harus ngapain? Jogja-Bogor gak kayak Jakarta-Bogor.&#34;&#xA;&#xA;Yang ditanya hanya dapat mengendus kesal. Memang benar apa yang dikatakan pacarnya itu. Mau memintanya pulang sekarang juga tidak mungkin. Apalagi mau minta peluk. Berakhir si gadis kembali mengerucutkan bibirnya. &#xA;&#xA;&#34;Bogor dingin,&#34; celetuknya asal.&#xA;&#xA;&#34;Terus?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mau minta peluk.&#34; Ghina udah gak tau kemana pergi gengsinya sekarang.&#xA;&#xA;Giandra mengalihkan pandangannya. Salah tingkah mendengar permintaan gadisnya. Wajar sih kalau sang adam salah tingkah. Kontak fisik mereka selama ini hanya sebatas rangkulan atau pegangan tangan, itu pun bisa dihitung jari.&#xA;&#xA;&#34;Iya, nanti abis aku nyampe Jakarta.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jakarta panas.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yaudah aku langsung ke Bogor deh. Bogor kan dingin tuh.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Udah gak pengen lagi pelukan sama kamu.&#34;&#xA;&#xA;Berbagai alasan pun Ghina lakukan, mana semuanya ditanggapi sama pacarnya. Bahkan wajahnya terasa panas, takut-takut pemuda itu datang ke rumahnya dan merealisasikan permintaanya. Ya, terima kasih kepada mulut dan otaknya yang mulai tidak sinkron.&#xA;&#xA;&#34;Mending kamu tidur deh.&#34; Gadis itu berusaha menghentikan topik yang sudah ia mulai. Dapat ia lihat bahwa sang adam menyipitkan matanya, menatap sinis kemudian berdecih.&#xA;&#xA;Gadis Alviera terkekeh kecil melihat reaksi sang kekasih. Baru beberapa detik ia menertawai Giandra, ia mendelik kaget ke arah layar. &#34;Kamu ngapain???&#34;&#xA;&#xA;Jelas ia kaget. Layarnya kini menampilkan pemuda Hanantara yang secara tiba-tiba melepas kemejanya. Seperti yang Giandra bilang sebelumnya, ia hanya menggunakan baju tipis. Jadi, jangan tanyakan keadaan Ghina sekarang.&#xA;&#xA;&#34;Katanya suruh tidur,&#34; sahut Giandra enteng. Sang adam kini menyampirkan kemejanya pada kursi yang ia duduki. Ia kembali menatap kearah layar sembari tersenyum, &#34;kita pelukan aja dalam mimpi.&#34; Celetukan asal pun kembali terlontar diantara percakapan mereka. &#34;Selamat tidur cewekku, mimpi indah.&#34;&#xA;&#xA;Sambungan pun terputus tepat setelah sang adam menyelesaikan ucapannya. Yang jadi masalah, apa iya Ghina bisa tidur cepat malam ini? Tentu saja tidak kawan-kawan.&#xA;ㅤ&#xA;ㅤ&#xA;ㅤ&#xA;ㅡEnd,&#xA;http10tion]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Sudah bukan hal aneh lagi jika Ia dan Giandra harus merasakan LDR Jakarta-Bogor selama libur kuliah. Wajar. Selama liburan juga biasanya mereka jarang berkomunikasi. Kalau kata Gian sih, <em>kapan lagi kumpul sama keluarga sebelum punya keluarga sendiri</em>. Paling-paling di akhir pekan sang adam mampir ke rumahnya dan lanjut ke puncak.</p>

<p>Tapi liburan semester kali ini beda. Selama masa libur, sang adam sibuk dengan liburan bersama gengnya. Awalnya sih Ghina biasa aja, paling ngambek-ngambek dikit karena iri saat sang pacar pamer. Lama-lama ia kangen. Beneran kangen sampai nge<em>spam roomchat</em> Giandra.</p>

<p>Tak hanya itu. Ghina JARANG BANGET ngirim foto ke pacarnya. Jadi gak heran kalau respon Giandra malah <em>kamu makan apa semalem? kayaknya salah makan</em> atau <em>kamu abis kepentok ya?</em> tiap dia ngepap. Emang kalau punya pacar gak peka mah susah.</p>

<p>Dan hari ini, belum ada satu pun pesan masuk dari kontak sang adam. Ia jadi uring-uringan, mirip anak SMA baru jatuh cinta. Sekarang hampir tengah malam dan status <em>online</em> terlihat jelas ketika ia mampir ke <em>roomchat</em> pacarnya. Dahinya menyerit, tapi jarinya bergerak lebih cepat untuk menekan tombol panggilan.</p>

<p><em>“Kok belum tidur?”</em> Kalimat pertama yang Ghina terima setelah sang adam menghilang tanpa kabar.</p>

<p>“Harusnya aku gak sih yang nanya kayak gitu ke kamu?”</p>

<p><em>“Aku baru bangun,”</em> jawab sang adam santai. Jelas Ghina kembali ngerutkan dahi. Bingung. <em>“Ini aku baru makan, mau liat?”</em> lanjut sang lawan bicara membuat si gadis makin heran.</p>

<p>“<em>Video call?</em>“</p>

<p><em>“Boleh.”</em>
<em>“Tapi bentar, aku pake baju dulu.”</em></p>

<p>Detik itu juga Ghina ingin berteriak <em>“KAMU TUH ABIS NGAPAIN??”</em>  tentu saja ia urungkan.</p>

<p>Panggilan suara pun kini beralih menjadi panggilan video. Layar milik Ghina pun menampilkan sosok yang membuatnya uring-uringan seharian ini. <em>“Selamat malam cewekku,”</em> sapa pemuda di sebrang sana.</p>

<p>“Apaan banget sih.” Si gadis merotasikan bola matanya. <em>Salting</em>. “Kamu abis ngapain sampe izin pake baju dulu?” Dan, ya, ujung-ujungnya ditanyakan juga oleh Ghina. Pasalnya, sang adam kini berbalut kaos putih serta kemeja yang dijadikan outer.</p>

<p><em>“Aku pake baju tipis, nanti kamu salah fokus.”</em></p>

<p>“Gak ya!” elaknya cepat. Sekarang malah ia jadi fokus akan jawaban sang adam. Tak lama ia menggeleng pelan, kembali fokus pada sang kekasih, “kok bisa baru bangun?” si gadis kembali melontarkan pertanyaan.</p>

<p>Giandra yang masih mengunyah makanannya pun menjawab, <em>“abis berenang sama anak-anak. Terus, aku ketiduran pas anak-anak beli makanan.”</em> Alasan klasik, tapi Ghina tetap percaya. <em>“Kamu laper gak? Bikin mie gih biar makan bareng.”</em></p>

<p>Decakan kesal pun kini dilayangkan si gadis. “Kamu kalo mau ngegagalin diet aku gak gitu caranya.”</p>

<p>Lawan bicaranya pun terkekeh disela-sela acara makannya. Gimana pun juga sang adam tau jika kata diet hanya menyembunyikan rasa malas Ghina untuk turun ke dapur. <em>“Kamu ngapain belum tidur?”</em> tanya sang adam mengalihkan pembicaraan.</p>

<p>“Nungguin <em>chat</em> dari kamu.” Kalimat itu terlontar begitu saja dari labium si gadis. Kalimat yang sukses membuat sang adam mengalihkan pandangannya dari makanan.</p>

<p><em>“Kenapa gak chat duluan?”</em></p>

<p>Sang puan berpikir sejenak. Kalau alasan jujurnya, tentu saja <strong><em>gengsi</em></strong>. Ghina akui bahwa gengsinya tinggi. Lantas ia menjawab, “takut ganggu.”</p>

<p>Pemuda itu tertawa kecil, tanpa suaraㅡ<em>mengingat teman-temannya yang sudah tertidur</em>. Sang adam dengan cepat menyelesaikan makan malam yang terlalu malam. Tak lama ia izin untuk buang sampah serta mengambil air mineral.</p>

<p>Keduanya hening. Giandra yang sibuk merapikan sisa sampah yang berserakan dan Ghina yang hanya melihat tingkah sang adam di balik layar. Tak berniat bersuara, membuka obrolan baru atau melanjutkan obrolan sebelumnya.</p>

<p>“Gian,” panggil si gadis pelan, sang adam hanya melirik sebagai jawaban-dia sedang minum. Gadis Alviera berpikir sejenak, kemudian berkata, “aku kangen.”</p>

<p>Tak ada respon sedikit pun dari sang adam. Beberapa sekon selnjutnya pemuda itu yang mendekati kamera, juga jarinya yang mengotak-atik layar ponselnya. <em>“Barusan ngomong apa, Ghin? Jaringan disini jelek banget deh.”</em></p>

<p>Ucapan sang adam membuat si gadis mengerucutkan bibirnya. Sudah menurunkan gengsi tapi jaringan malah tidak bersahabat. Ghina menghela napas panjang sebelum mengulang perkataanya. “Giandra, Ghina kangen,” ucap si gadis sembari berharap jika tak ada lagi masalah jaringan.</p>

<p>Detik berikutnya, pemuda itu melukis senyuman di wajahnya, diikuti gelak tawa sebagai penutup. <em>“Sip, udah kurekam.”</em></p>

<p>Mata Ghina membulat sempurna. Mana kepikiran kalau ternyata sang kekasih mencari alat perekam, bukan mengecek jaringan atau apa pun itu. “Parah banget!”</p>

<p><em>“Kapan lagi kan cewekku bilang kangen,”</em> ucap sang adam yang masih tersenyum lebar, <em>“terus kalo kangen aku harus ngapain? Jogja-Bogor gak kayak Jakarta-Bogor.”</em></p>

<p>Yang ditanya hanya dapat mengendus kesal. Memang benar apa yang dikatakan pacarnya itu. Mau memintanya pulang sekarang juga tidak mungkin. Apalagi mau minta peluk. Berakhir si gadis kembali mengerucutkan bibirnya.</p>

<p>“Bogor dingin,” celetuknya asal.</p>

<p><em>“Terus?”</em></p>

<p>“Mau minta peluk.” Ghina udah gak tau kemana pergi gengsinya sekarang.</p>

<p>Giandra mengalihkan pandangannya. Salah tingkah mendengar permintaan gadisnya. Wajar sih kalau sang adam salah tingkah. Kontak fisik mereka selama ini hanya sebatas rangkulan atau pegangan tangan, itu pun bisa dihitung jari.</p>

<p><em>“Iya, nanti abis aku nyampe Jakarta.”</em></p>

<p>“Jakarta panas.”</p>

<p><em>“Yaudah aku langsung ke Bogor deh. Bogor kan dingin tuh.”</em></p>

<p>“Udah gak pengen lagi pelukan sama kamu.”</p>

<p>Berbagai alasan pun Ghina lakukan, mana semuanya ditanggapi sama pacarnya. Bahkan wajahnya terasa panas, takut-takut pemuda itu datang ke rumahnya dan merealisasikan permintaanya. Ya, terima kasih kepada mulut dan otaknya yang mulai tidak sinkron.</p>

<p>“Mending kamu tidur deh.” Gadis itu berusaha menghentikan topik yang sudah ia mulai. Dapat ia lihat bahwa sang adam menyipitkan matanya, menatap sinis kemudian berdecih.</p>

<p>Gadis Alviera terkekeh kecil melihat reaksi sang kekasih. Baru beberapa detik ia menertawai Giandra, ia mendelik kaget ke arah layar. “Kamu ngapain???”</p>

<p>Jelas ia kaget. Layarnya kini menampilkan pemuda Hanantara yang secara tiba-tiba melepas kemejanya. Seperti yang Giandra bilang sebelumnya, ia hanya menggunakan baju tipis. Jadi, jangan tanyakan keadaan Ghina sekarang.</p>

<p><em>“Katanya suruh tidur,”</em> sahut Giandra enteng. Sang adam kini menyampirkan kemejanya pada kursi yang ia duduki. Ia kembali menatap kearah layar sembari tersenyum, “kita pelukan aja dalam mimpi.” Celetukan asal pun kembali terlontar diantara percakapan mereka. “Selamat tidur cewekku, mimpi indah.”</p>

<p>Sambungan pun terputus tepat setelah sang adam menyelesaikan ucapannya. Yang jadi masalah, apa iya Ghina bisa tidur cepat malam ini? Tentu saja tidak kawan-kawan.
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅡEnd,
<em>http10tion</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://http10tion.writeas.com/ldr</guid>
      <pubDate>Sat, 05 Feb 2022 10:15:31 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Cemburu</title>
      <link>https://http10tion.writeas.com/cemburu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Kalau ditanya apa yang Ghina benci dari Giandra, jawabannya saat pacarnya itu mode cemburu. Sebenarnya, ia sudah sadar jika pemuda itu cemburuan, jauh sebelum mereka berpacaranㅡmengingat masa PDKT mereka cukup panjang. Tapi makin menjadi ketika mereka berpacaran.!--more--&#xA;&#xA;Memang sih, cemburu tanda cinta, marah tandanya sayang. Itu kalau kata Zivilia. Tapi kalau kata Ghina, Giandra rese kalau mode cemburu. Terutama oknum yang bikin dia cemburu tinggal serumah alias Raditya Zidan, kakak tingkat kesayangan Giandra. Jadi siap-siap aja dua minggu mereka gak ketemu.&#xA;&#xA;Giandra itu tipe yang tak akan pernah membahas masalahnya ke orang lain, kemudian menghindar dengan alasan hibernasi. Mirip silent treatment, tapi tidak separah itu. Iya, gak parah karena Ghina juga melakukan hal yang sama. Sebenarnya bukan menghindar, tapi mereka sama sekali gak tau harus bahas kayak gimana.&#xA;&#xA;Dan hari ini, genap seminggu mereka saling menghindar. Berakhir gadis Alviera lah yang pergi ke gedung Fakultas Ilmu Komputer tanpa sepengetahuan sang adam. Mari berterima kasih pada Daffa yang siap sedia menjadi tangan kanannya-tentu saja tidak gratis.&#xA;&#xA;&#34;Udah aku bilang jangan nongkrong di fasilkom walau disana ada Daffa apalagi bang Radit,&#34; omel sang adam.&#xA;&#xA;Dari ketemu di kantin Fakultas Ilmu Komputer sampai mereka udah pindah tempat, yang diomongin masih sama. Jangan nongkring di FASILKOM. Ya, kalo Giandra bukan mode cemburu sih Ghina juga ogah berkunjung apalagi berdiam diri lama-lama ke gedung yang 75% isinya laki-laki. &#xA;&#xA;&#34;Ya kan kamu di fasilkom, masa aku mainnya ke gedung FEB.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenapa harus FEB? Mau nyamperin mantan gebetan kamu?&#34;&#xA;&#xA;SALAH MULU.&#xA;&#xA;Ghina menatap malas sang kekasih. Bisa-bisanya ada orang ngomel-ngomel tapi makan jalan terus. Rupanya cemburu juga butuh tenaga. Ia menghela napas panjang. Kalau gini ceritanya, lebih baik ia ikut makan. &#xA;&#xA;Keduanya saling diam. Mungkin ada sekitar lima menit mereka fokus pada makan siang mereka, sesekali melirik sang lawan bicara. Hingga pertanyaan Giandra memecah keheningan yang mereka buat.&#xA;&#xA;&#34;Kamu bisa gak jangan deket-deket sama Bang Radit?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamu cemburu?&#34; tanya si gadis to the point. Yang ditanya pun hanya menatap gadisnya, enggan untuk menjawab. &#34;Kan kak Radit temen kamu. Toh, kak Radit juga udah punya pacar.&#34;&#xA;&#xA;Dapat Ghina lihat bahwa sang adam kini mengalihkan pandangannya, mencari alasan selogis dan semudah mungkin agar dapat ia terima. Gadis Alviera pun mulai menumpu kepalanya dengan tangan, menunggu alasan apa yang akan ia jelaskan padanya.&#xA;&#xA;&#34;Jujur aja, aku awalnya gak masalah kalo kamu minta tolong sama bang Radit atau sebaliknya. Aku juga gak masalah kamu kamu ngobrol akrab kaya temen lama. Cuma...&#34; ia memberi jeda pada ucapannya, &#34;cuma kalo aku inget bang Radit pernah naksir kamu, pernah nembak kamu, terus sering bercanda &#39;mending pacaran sama gua daripada sama Gian&#39;, apa aku gak kepikiran?&#34;&#xA;&#xA;Pandangan mereka beradu. Namun, si gadis tetap diam, belum berniat untuk berkomentar. Bagaimana pun juga, Ghina tau jika masih banyak yang ingin sang adam ucapkan. Hanya saja ia tak dapat mengolahnya menjadi kata-kata karena terlalu lama memendamnya.&#xA;&#xA;&#34;Bukannya aku gak percaya sama temenku apalagi pacarku sendiri. Namanya setan kan gak ada yang tau. Apalagi dulu kamu nolak bang Radit dengan alasan baru kenal. Lah sekarang, udah kenal, deket, tau-taunya kamu lebih nyaman samaㅡ&#xA;&#xA;Ucapan Giandra pun terputus karena kekasihnya itu menyuapi makanan miliknya secara tiba-tiba. Sedikit tersedak karena mendapat perlakuan aneh dari gadisnya. &#34;Makan yang banyak ya pacarku,&#34; ucap si gadis diakhiri dengan kekehan.&#xA;&#xA;Lirikan sinis pun dilayangkan sang adam. Bibirnya mengerucut. &#34;Aku lagi serius, Ghinaaa!&#34;&#xA;&#xA;Sudut bibir Ghina pun tertarik. Ia tak sanggup menahan gemas. Mana tau kalau ternyata selama ini pacarnya itu overthinking sampai-sampai memikirkan worst-case scenario tentang hubungan mereka.&#xA;&#xA;&#34;Aku juga serius, Giaann,&#34; balas si gadis tak mau kalah. Ia kembali terkekeh sembari mengacak pelan rambut kekasihnya. &#34;Kamu makan yang banyak. Tenaga kamu pasti abis buat cemburu ke kak Radit.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Males ah.&#34;&#xA;&#xA;Lagi, Ghina hanya bisa terkekeh melihat kelakuan pacarnya. Ia sudah menggap selesai urusan Giandra dan cemburunya. Sekarang waktunya  ia memberi asupan makanan untuk bayi besarnya itu.&#xA;ㅤ&#xA;ㅤ&#xA;ㅤ&#xA;ㅡEnd,&#xA;http10tion]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Kalau ditanya apa yang Ghina benci dari Giandra, jawabannya saat pacarnya itu mode cemburu. Sebenarnya, ia sudah sadar jika pemuda itu cemburuan, jauh sebelum mereka berpacaranㅡ<em>mengingat masa PDKT mereka cukup panjang</em>. Tapi makin menjadi ketika mereka berpacaran.</p>

<p>Memang sih, cemburu tanda cinta, marah tandanya sayang. Itu kalau kata Zivilia. Tapi kalau kata Ghina, Giandra rese kalau mode cemburu. Terutama oknum yang bikin dia cemburu tinggal serumah alias Raditya Zidan, kakak tingkat kesayangan Giandra. Jadi siap-siap aja dua minggu mereka gak ketemu.</p>

<p>Giandra itu tipe yang tak akan pernah membahas masalahnya ke orang lain, kemudian menghindar dengan alasan hibernasi. Mirip <em>silent treatment</em>, tapi tidak separah itu. Iya, gak parah karena Ghina juga melakukan hal yang sama. Sebenarnya bukan menghindar, tapi mereka sama sekali gak tau harus bahas kayak gimana.</p>

<p>Dan hari ini, genap seminggu mereka saling menghindar. Berakhir gadis Alviera lah yang pergi ke gedung Fakultas Ilmu Komputer tanpa sepengetahuan sang adam. Mari berterima kasih pada Daffa yang siap sedia menjadi tangan kanannya-<em>tentu saja tidak gratis</em>.</p>

<p>“Udah aku bilang jangan nongkrong di fasilkom walau disana ada Daffa apalagi bang Radit,” omel sang adam.</p>

<p>Dari ketemu di kantin Fakultas Ilmu Komputer sampai mereka udah pindah tempat, yang diomongin masih sama. <strong>Jangan nongkring di FASILKOM</strong>. Ya, kalo Giandra bukan mode cemburu sih Ghina juga ogah berkunjung apalagi berdiam diri lama-lama ke gedung yang 75% isinya laki-laki.</p>

<p>“Ya kan kamu di fasilkom, masa aku mainnya ke gedung FEB.”</p>

<p>“Kenapa harus FEB? Mau nyamperin mantan gebetan kamu?”</p>

<p><em>SALAH MULU.</em></p>

<p>Ghina menatap malas sang kekasih. Bisa-bisanya ada orang ngomel-ngomel tapi makan jalan terus. <em>Rupanya cemburu juga butuh tenaga</em>. Ia menghela napas panjang. Kalau gini ceritanya, lebih baik ia ikut makan.</p>

<p>Keduanya saling diam. Mungkin ada sekitar lima menit mereka fokus pada makan siang mereka, sesekali melirik sang lawan bicara. Hingga pertanyaan Giandra memecah keheningan yang mereka buat.</p>

<p>“Kamu bisa gak jangan deket-deket sama Bang Radit?”</p>

<p>“Kamu cemburu?” tanya si gadis <em>to the point</em>. Yang ditanya pun hanya menatap gadisnya, enggan untuk menjawab. “Kan kak Radit temen kamu. Toh, kak Radit juga udah punya pacar.”</p>

<p>Dapat Ghina lihat bahwa sang adam kini mengalihkan pandangannya, mencari alasan selogis dan semudah mungkin agar dapat ia terima. Gadis Alviera pun mulai menumpu kepalanya dengan tangan, menunggu alasan apa yang akan ia jelaskan padanya.</p>

<p>“Jujur aja, aku awalnya gak masalah kalo kamu minta tolong sama bang Radit atau sebaliknya. Aku juga gak masalah kamu kamu ngobrol akrab kaya temen lama. Cuma...” ia memberi jeda pada ucapannya, “cuma kalo aku inget bang Radit pernah naksir kamu, pernah nembak kamu, terus sering bercanda &#39;mending pacaran sama gua daripada sama Gian&#39;, apa aku gak kepikiran?”</p>

<p>Pandangan mereka beradu. Namun, si gadis tetap diam, belum berniat untuk berkomentar. Bagaimana pun juga, Ghina tau jika masih banyak yang ingin sang adam ucapkan. Hanya saja ia tak dapat mengolahnya menjadi kata-kata karena terlalu lama memendamnya.</p>

<p>“Bukannya aku gak percaya sama temenku apalagi pacarku sendiri. Namanya setan kan gak ada yang tau. Apalagi dulu kamu nolak bang Radit dengan alasan baru kenal. Lah sekarang, udah kenal, deket, tau-taunya kamu lebih nyaman samaㅡ</p>

<p>Ucapan Giandra pun terputus karena kekasihnya itu menyuapi makanan miliknya secara tiba-tiba. Sedikit tersedak karena mendapat perlakuan aneh dari gadisnya. “Makan yang banyak ya pacarku,” ucap si gadis diakhiri dengan kekehan.</p>

<p>Lirikan sinis pun dilayangkan sang adam. Bibirnya mengerucut. “Aku lagi serius, Ghinaaa!”</p>

<p>Sudut bibir Ghina pun tertarik. Ia tak sanggup menahan gemas. Mana tau kalau ternyata selama ini pacarnya itu <em>overthinking</em> sampai-sampai memikirkan <em>worst-case scenario</em> tentang hubungan mereka.</p>

<p>“Aku juga serius, Giaann,” balas si gadis tak mau kalah. Ia kembali terkekeh sembari mengacak pelan rambut kekasihnya. “Kamu makan yang banyak. Tenaga kamu pasti abis buat cemburu ke kak Radit.”</p>

<p>“Males ah.”</p>

<p>Lagi, Ghina hanya bisa terkekeh melihat kelakuan pacarnya. Ia sudah menggap selesai urusan Giandra dan cemburunya. Sekarang waktunya  ia memberi asupan makanan untuk bayi besarnya itu.
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅡEnd,
<em>http10tion</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://http10tion.writeas.com/cemburu</guid>
      <pubDate>Sat, 05 Feb 2022 10:14:12 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Demam</title>
      <link>https://http10tion.writeas.com/demam?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Sudah bukan hal aneh lagi jika mahasiswa mengalami demam tiap semesternya. Tertutama menekati UTS atau UAS-atau bahkan setelahnya. Ghina salah satunya.&#xA;&#xA;Ujian tengah semester telah berakhir tiga hari yang lalu. Tapi efeknya masih terasa hingga sekarang. Demam. Sebuah efek dari begadang semalaman dan menjadi zombie di pagi hari. Terima kasih pada ujian teori, ujian praktikum, serta laporan-laporan yang telah membuatnya harus mengambil jatah absen sejak dua hari yang lalu.&#xA;&#xA;Kuliah, nugas, tipes.!--more--&#xA;&#xA;Ini baru pertama kalinya Ghina sakit sampai ia memutuskan untuk mengambil jatah absen. Kalau ditarik ke belakang, wajar saja mengingat ia kerja rodi demi laporan-laporan deangan deadline tidak manusiawi.  Bahkan kalau belum kena omel Rosa atau Giandra, bisa-bisa ia tidak makan seharian.&#xA;&#xA;Ngomong-ngomong soal Giandra, pemuda itu SAMA SEKALI gak mampir setelah tau dirinya sakit. Pas ditanya alasannya, jawaban sang adam malah, &#34;gak ah, nanti kamu malah nularin virus lagi.&#34; &#xA;&#xA;Parah banget itu cowok, minta dipukul.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Entah apa yang terjadi di luar sana sampai menimbulkan kebisingan. Kepala Ghina pening seketika. Bangun karena berisik dan masih mengantuk efek dari obat yang diminum membuat si gadis berdecak kesal. Baru ia ingin berteriak, suara familiar pun menyapa indra pendengarannya.&#xA;&#xA;&#34;Jangan berisik kenapa sih, cewek gua nanti bangun.&#34;&#xA;&#xA;Ghina memfokuskan pandangannya, menatap sosok pemuda yang kini bersandar pada kusen pintu. &#34;Gian?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Berisik ya? Sorry, aku bawa dua bocil soalnya.&#34; Si gadis mengangguk lemah. Detik berikutnya, ia berusaha mendudukan dirinya di ranjang. Tentu kena omel Giandra. &#34;Tidur aja lagi, kata Jeslyn kamu baru tidur 15 menit yang lalu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terus kamu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Pulang.&#34;&#xA;&#xA;Kedua alis Ghina bertaut. Bisa-bisanya pacarnya itu menjawab dengan enteng. &#34;Sini gak?!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gak mau, virus.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yang ada kamu yang virus. Dari luar gak cuci tangan, terus jenguk orang sakit.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya makanya aku mau langsung pulang.&#34;&#xA;&#xA;Dan bantal melayang menjadi adegan berikutnya. &#34;Pacar sakit tuh disayang. Ini malah diajak ribut.&#34; &#xA;&#xA;Pemuda Hanantara pun terkekeh. Pada akhirnya pemuda itu tetap menuruti kemauan gadisnya. Ia menarik kursi belajar Ghina, menyimpannya di sebelah ranjang si gadis. Baru ia mau duduk, tapi gadis itu langsung menghujaninya dengan cubitan sayang.&#xA;&#xA;&#34;Kamu sakitnya bohongan ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalo nyubit kamu doang mah aku masih punya tenaga kali!&#34;&#xA;&#xA;Giandra menangguk pasrah. Mana tau kalau ia membuka mulut, kaki si gadis bergerak untuk menendangnya. &#34;Masih demam gak?&#34; tanyanya, pengalihan topik. &#34;Tiduran lagi gih, emang gak pusing apa kamu kebangun padahal baru tidur?&#34;&#xA;&#xA;Gadis Alviera pun menghela napas pasrah. Yang ia bisa lakukan hanya menuruti ucapan sang pacar. Toh, memang kenyataanya ia masih mengantuk, mengingat efek dari obatnya memang separah itu. Hingga tangannya membawa tangan sang adam dan menyimpannya di puncak kepalanya.&#xA;&#xA;&#34;Ohh, jadi ini konteks &#39;pacar sakit tuh disayang&#39;,&#34; sindir sang adam. Mau menyindir bagaimana pun ia tapi tetap mengusap pelan puncak kepala gadisnya. Yang disindir enggan menjawab. Tak ada gunanya juga meladeni cowok aneh kaya Giandra.&#xA;&#xA;Usapan demi usapan membuat Ghina makin mengantuk. Perlahan, dwinetranya mulai terpejam. Niatnya untuk mengobrol lebih lama dengan sang pacar hilang seketika. Belum ada lima menit tapi kesadarannya benar-benar telah menipis. Yang ia ingat hanya ucapan dari Giandra sebelum ia benar-benar tertidur.&#xA;&#xA;&#34;Cepat sembuh, Ghina.&#34;&#xA;ㅤ&#xA;ㅤ&#xA;ㅤ&#xA;---&#xA;ㅤ&#xA;ㅤ&#xA;ㅤ&#xA;Jarum jam menunjuk ke angka sembilan. Suasana kos tampak tenang padahal hari ini hari libur. Netra Ghina mengedar, mendapati keempat kawannya itu berkumpul di meja makan. Tanpa berpikir panjang ia lantas menduduki kursi kosong yang tersisa.&#xA;&#xA;Ngomong-ngomong soal demam, ia sudah sembuh total. Kalau kata Megan sih udah dapet &#34;obat&#34; yang sebenarnya. Ia hanya berdecak sebagai respon ledekan gadis itu, tapi hati kecilnya mengiyakan.&#xA;&#xA;&#34;Kemarin siapa yang bagian beliin gua makanan sama obat pas gua sakit?&#34; tanyanya to the point, &#34;mau gua ganti.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kak Gian.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hah?&#34; Jawaban Jeslyn membuat si penanya terkejut, &#34;semuanya?&#34; tanyanya lagi dan mendapat anggukan dari kawannya secara serentak. &#34;Dari rabu sampai kemarin?&#34; Ia masih bertanya, masih tak percaya walau jawaban &#39;iya&#39; telah ia terima. &#34;Kok bisa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Awalnya gua minta tolong, soalnya apotek kan jauh.&#34; Yang paling tua menjawab sembari memberikan sarapan pada si gadis. &#34;Besoknya dia dateng-dateng bawa bubur,&#34; lanjut Rosa, memberikan penjelasan lebih.&#xA;&#xA;&#34;Martabak juga kak, jangan lupa.&#34; Megan menambahkan. Ya, ini sih gak penting.&#xA;&#xA;Gadis dengan nama belakang Alviera pun hanya mengangguk. Masih terkejut dengan informasi yang ia dapat. Belum selesai sampai disana. Sahutan panjang dari Helena cukup membuatnya gagal menyantap sarapan dengan tenang.&#xA;&#xA;&#34;Satu lagi, Ghin. Tiap hari dia dateng buat mastiin lu udah minum obat terus istirahat. Bukan cuma kemarin doang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;KOK GAK BILANG???&#34;&#xA;&#xA;Emang ya Giandra Hanantara sukanya gerakan bawah tanah.&#xA;ㅤ&#xA;ㅤ&#xA;ㅤ&#xA;ㅡEnd,&#xA;http10tion]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Sudah bukan hal aneh lagi jika mahasiswa mengalami demam tiap semesternya. Tertutama menekati UTS atau UAS-<em>atau bahkan setelahnya</em>. Ghina salah satunya.</p>

<p>Ujian tengah semester telah berakhir tiga hari yang lalu. Tapi efeknya masih terasa hingga sekarang. Demam. Sebuah efek dari begadang semalaman dan menjadi zombie di pagi hari. Terima kasih pada ujian teori, ujian praktikum, serta laporan-laporan yang telah membuatnya harus mengambil jatah absen sejak dua hari yang lalu.</p>

<p><em>Kuliah, nugas, tipes.</em></p>

<p>Ini baru pertama kalinya Ghina sakit sampai ia memutuskan untuk mengambil jatah absen. Kalau ditarik ke belakang, wajar saja mengingat ia kerja rodi demi laporan-laporan deangan <em>deadline</em> tidak manusiawi.  Bahkan kalau belum kena omel Rosa atau Giandra, bisa-bisa ia tidak makan seharian.</p>

<p>Ngomong-ngomong soal Giandra, pemuda itu SAMA SEKALI gak mampir setelah tau dirinya sakit. Pas ditanya alasannya, jawaban sang adam malah, <em>“gak ah, nanti kamu malah nularin virus lagi.”</em></p>

<p><em>Parah banget itu cowok, minta dipukul.</em></p>

<hr/>

<p>Entah apa yang terjadi di luar sana sampai menimbulkan kebisingan. Kepala Ghina pening seketika. Bangun karena berisik dan masih mengantuk efek dari obat yang diminum membuat si gadis berdecak kesal. Baru ia ingin berteriak, suara familiar pun menyapa indra pendengarannya.</p>

<p>“Jangan berisik kenapa sih, cewek gua nanti bangun.”</p>

<p>Ghina memfokuskan pandangannya, menatap sosok pemuda yang kini bersandar pada kusen pintu. “Gian?”</p>

<p>“Berisik ya? <em>Sorry</em>, aku bawa dua bocil soalnya.” Si gadis mengangguk lemah. Detik berikutnya, ia berusaha mendudukan dirinya di ranjang. Tentu kena omel Giandra. “Tidur aja lagi, kata Jeslyn kamu baru tidur 15 menit yang lalu.”</p>

<p>“Terus kamu?”</p>

<p>“Pulang.”</p>

<p>Kedua alis Ghina bertaut. Bisa-bisanya pacarnya itu menjawab dengan enteng. “Sini gak?!”</p>

<p>“Gak mau, virus.”</p>

<p>“Yang ada kamu yang virus. Dari luar gak cuci tangan, terus jenguk orang sakit.”</p>

<p>“Ya makanya aku mau langsung pulang.”</p>

<p>Dan bantal melayang menjadi adegan berikutnya. “Pacar sakit tuh disayang. Ini malah diajak ribut.”</p>

<p>Pemuda Hanantara pun terkekeh. Pada akhirnya pemuda itu tetap menuruti kemauan gadisnya. Ia menarik kursi belajar Ghina, menyimpannya di sebelah ranjang si gadis. Baru ia mau duduk, tapi gadis itu langsung menghujaninya dengan cubitan sayang.</p>

<p>“Kamu sakitnya bohongan ya?”</p>

<p>“Kalo nyubit kamu doang mah aku masih punya tenaga kali!”</p>

<p>Giandra menangguk pasrah. Mana tau kalau ia membuka mulut, kaki si gadis bergerak untuk menendangnya. “Masih demam gak?” tanyanya, pengalihan topik. “Tiduran lagi gih, emang gak pusing apa kamu kebangun padahal baru tidur?”</p>

<p>Gadis Alviera pun menghela napas pasrah. Yang ia bisa lakukan hanya menuruti ucapan sang pacar. Toh, memang kenyataanya ia masih mengantuk, mengingat efek dari obatnya memang separah itu. Hingga tangannya membawa tangan sang adam dan menyimpannya di puncak kepalanya.</p>

<p>“Ohh, jadi ini konteks &#39;pacar sakit tuh disayang&#39;,” sindir sang adam. Mau menyindir bagaimana pun ia tapi tetap mengusap pelan puncak kepala gadisnya. Yang disindir enggan menjawab. Tak ada gunanya juga meladeni cowok aneh kaya Giandra.</p>

<p>Usapan demi usapan membuat Ghina makin mengantuk. Perlahan, dwinetranya mulai terpejam. Niatnya untuk mengobrol lebih lama dengan sang pacar hilang seketika. Belum ada lima menit tapi kesadarannya benar-benar telah menipis. Yang ia ingat hanya ucapan dari Giandra sebelum ia benar-benar tertidur.</p>

<p>“Cepat sembuh, Ghina.”
ㅤ
ㅤ
ㅤ</p>

<hr/>

<p>ㅤ
ㅤ
ㅤ
Jarum jam menunjuk ke angka sembilan. Suasana kos tampak tenang padahal hari ini hari libur. Netra Ghina mengedar, mendapati keempat kawannya itu berkumpul di meja makan. Tanpa berpikir panjang ia lantas menduduki kursi kosong yang tersisa.</p>

<p>Ngomong-ngomong soal demam, ia sudah sembuh total. Kalau kata Megan sih udah dapet <em>“obat”</em> yang sebenarnya. Ia hanya berdecak sebagai respon ledekan gadis itu, tapi hati kecilnya mengiyakan.</p>

<p>“Kemarin siapa yang bagian beliin gua makanan sama obat pas gua sakit?” tanyanya <em>to the point</em>, “mau gua ganti.”</p>

<p>“Kak Gian.”</p>

<p>“Hah?” Jawaban Jeslyn membuat si penanya terkejut, “semuanya?” tanyanya lagi dan mendapat anggukan dari kawannya secara serentak. “Dari rabu sampai kemarin?” Ia masih bertanya, masih tak percaya walau jawaban &#39;iya&#39; telah ia terima. “Kok bisa?”</p>

<p>“Awalnya gua minta tolong, soalnya apotek kan jauh.” Yang paling tua menjawab sembari memberikan sarapan pada si gadis. “Besoknya dia dateng-dateng bawa bubur,” lanjut Rosa, memberikan penjelasan lebih.</p>

<p>“Martabak juga kak, jangan lupa.” Megan menambahkan. <em>Ya, ini sih gak penting.</em></p>

<p>Gadis dengan nama belakang Alviera pun hanya mengangguk. Masih terkejut dengan informasi yang ia dapat. Belum selesai sampai disana. Sahutan panjang dari Helena cukup membuatnya gagal menyantap sarapan dengan tenang.</p>

<p>“Satu lagi, Ghin. Tiap hari dia dateng buat mastiin lu udah minum obat terus istirahat. Bukan cuma kemarin doang.”</p>

<p>“KOK GAK BILANG???”</p>

<p>Emang ya Giandra Hanantara sukanya gerakan bawah tanah.
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅡEnd,
<em>http10tion</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://http10tion.writeas.com/demam</guid>
      <pubDate>Sat, 05 Feb 2022 10:13:24 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Jadian?</title>
      <link>https://http10tion.writeas.com/jadian?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Gadis Alviera kembali menyeruput minuman di depannya. Sudah lima belas menit ia menunggu Giandra datang. Namun, hingga kini sang adam belum menunjukan batang hidungnya. Ghina bahkan sampai bosan menscroll beranda instagramnya.&#xA;&#xA;“Ghin!”!--more--&#xA;&#xA;Akhirnya muncul juga.&#xA;&#xA;“Abis ngewibu ya, lu?” sindir si gadis, mengingatkan sang adam pada alasan minggu lalu.&#xA;&#xA;“Enggak. Abis ngobrol sama bang Radit,” jawab Giandra sembari menyeruput minuman milik Ghina. “Kata bang Radit lu abis nolak dia. Katanya lu jutek banget,” lanjut sang adam membuat lawan bicaranya menyerit bingung.&#xA;&#xA;&#34;Radit?&#34; Ia berpikir sejenak, mengingat perawakan si empunya nama, “lo kenal kak Radit?”&#xA;&#xA;“Satu kosan,” jawab pemuda Hanatara singkat. “Bentar ya, mau mesen minum dulu.”&#xA;&#xA;“Titip kentang, Gian.”&#xA;&#xA;Setelah kepergian sang adam, Ghina memikirkan kejadian seminggu yang lalu. Alasannya menolak kakak tingkatnya karena mereka baru kenal dua minggu. Padahal alasan utamanya karena ia stuck dengan Giandra. Ahh-Rosa dan Helena bahkan sering memarahinya karena menunggu yang tidak pasti. Satu tahun terlalu lama untuk masa PDKT, kata mereka.&#xA;&#xA;“Ngelamun aja. Mikirin bang Radit?”&#xA;&#xA;Yang ditanya menggeleng pelan. Terlalu memikirkan hubungannya dengan Giandra membuat kepalanya semakin pening. Masa iya harus dia yang memulai. Gengsi! Belum malu dan rasa canggung setelahnya. Ghina mau nangis rasanya.&#xA;&#xA;“Kayaknya lu demen banget nolak cowok, deh,” ucapan pemuda Hanantara membuat Ghina perang batin.&#xA;&#xA;“Baru tiga.”&#xA;&#xA;“Iya, itu yang lu tolak. Yang lu kacangin?” ledek sang adam. Beberapa detik berikutnya ia merintih kesakitan. Tentu saja karena Ghina menginjak kaki Giandra tanpa aba-aba. “Galak banget lu kalo sama gua. Perawat galak kaya gini mah, pasiennya kabur semua.”&#xA;&#xA;“Kalo pasiennya kaya lu, mending gua ajak baku hantam.”&#xA;&#xA;Setelah ucapan Ghina, keduanya saling diam. Pemuda Hanantara sibuk dengan laptop di depannya, sedangkan si gadis enggan memulai obrolan baru. Sesekali erangan kesal dari Giandra memecah keheningan dan tentu saja diabaikan. Lebih baik ia sibuk dengan ponselnya.&#xA;&#xA;“Ghin,” panggil sang adam dan dibalas dehaman oleh si gadis. “Alasan lu nolak cowok kenapa, dah?”&#xA;&#xA;“Deket baru dua minggu udah ngajak pacaran. Emangnya gua apaan,” sewot si gadis.&#xA;&#xA;“Kalo gua yang nembak, lu tolak juga, gak?”&#xA;&#xA;“Ya enggak, lah.”&#xA;&#xA;“Hah?”&#xA;&#xA;1 detik&#xA;&#xA;3 detik&#xA;&#xA;5 detik&#xA;&#xA;“Tolol banget, Ghina!” pekik si gadis sembari menutup wajahnya malu. Kepalang tanggung, sang puan pun berseru, “Gian, jadi pacar gua, yuk!”&#xA;&#xA;“L-lu nembak kaya ngajak jajan cilok.” Ginadra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, canggung rasanya. “Harusnya kan itu bagian gua.”&#xA;&#xA;“Kelamaan kalo nungguin lu,” cicit gadis Alviera pelan.&#xA;&#xA;“Gua mau gerak cepet, tapi webnya error mulu,” ucapan Giandra membuat lawan bicaranya menyerit bingung. Tau akan kebingungan si gadis, ia memutar laptop miliknya. Layar itu menampilkan rentetan koding yang jelas tak dimengerti gadis Alviera. Dalam hitungan detik, layar berganti menjadi web yang dimaksud sang adam. Baru beberapa laman yang ditampilkan, layar kembali ke laman awal. “Gua sampai nanya sama kating asal lu tau.”&#xA;&#xA;“Lagi gaya-gayaan, hobinya tipsen juga.”&#xA;&#xA;Sang adam kini sibuk merapikan laptopnya, kemudian menghabiskan minuman yang ia pesan. “Dah, yuk cabut.”&#xA;&#xA;“Lah, gak dilanjutin?” tanya Ghina bingung.&#xA;&#xA;Yang ditanya menggeleng kemudian melukis senyuman di wajahnya. “Gak lah, kan udah jadi pacar.”&#xA;&#xA;“Dih. Kok-”&#xA;&#xA;“Gak usah banyak protes ah. Berasa petinggi negara deh gua, diprotes mulu,” potong Giandra sembari merangkul gadisnya. Daripada dirangkul, sang adam malah terlihat sedang menyeret si gadis.&#xA;&#xA;Jadiannya? Udah. Gitu doang.&#xA;ㅤ&#xA;ㅤ&#xA;ㅤ&#xA;ㅡEnd,&#xA;http10tion]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Gadis Alviera kembali menyeruput minuman di depannya. Sudah lima belas menit ia menunggu Giandra datang. Namun, hingga kini sang adam belum menunjukan batang hidungnya. Ghina bahkan sampai bosan menscroll beranda instagramnya.</p>

<p>“Ghin!”</p>

<p><em>Akhirnya muncul juga.</em></p>

<p>“Abis ngewibu ya, lu?” sindir si gadis, mengingatkan sang adam pada alasan minggu lalu.</p>

<p>“Enggak. Abis ngobrol sama bang Radit,” jawab Giandra sembari menyeruput minuman milik Ghina. “Kata bang Radit lu abis nolak dia. Katanya lu jutek banget,” lanjut sang adam membuat lawan bicaranya menyerit bingung.</p>

<p>“Radit?” Ia berpikir sejenak, mengingat perawakan si empunya nama, “lo kenal kak Radit?”</p>

<p>“Satu kosan,” jawab pemuda Hanatara singkat. “Bentar ya, mau mesen minum dulu.”</p>

<p>“Titip kentang, Gian.”</p>

<p>Setelah kepergian sang adam, Ghina memikirkan kejadian seminggu yang lalu. Alasannya menolak kakak tingkatnya karena mereka baru kenal dua minggu. Padahal alasan utamanya karena ia stuck dengan Giandra. <em>Ahh</em>-Rosa dan Helena bahkan sering memarahinya karena menunggu yang tidak pasti. Satu tahun terlalu lama untuk masa PDKT, kata mereka.</p>

<p>“Ngelamun aja. Mikirin bang Radit?”</p>

<p>Yang ditanya menggeleng pelan. Terlalu memikirkan hubungannya dengan Giandra membuat kepalanya semakin pening. Masa iya harus dia yang memulai. Gengsi! Belum malu dan rasa canggung setelahnya. Ghina mau nangis rasanya.</p>

<p>“Kayaknya lu demen banget nolak cowok, deh,” ucapan pemuda Hanantara membuat Ghina perang batin.</p>

<p>“Baru tiga.”</p>

<p>“Iya, itu yang lu tolak. Yang lu kacangin?” ledek sang adam. Beberapa detik berikutnya ia merintih kesakitan. Tentu saja karena Ghina menginjak kaki Giandra tanpa aba-aba. “Galak banget lu kalo sama gua. Perawat galak kaya gini mah, pasiennya kabur semua.”</p>

<p>“Kalo pasiennya kaya lu, mending gua ajak baku hantam.”</p>

<p>Setelah ucapan Ghina, keduanya saling diam. Pemuda Hanantara sibuk dengan laptop di depannya, sedangkan si gadis enggan memulai obrolan baru. Sesekali erangan kesal dari Giandra memecah keheningan dan tentu saja diabaikan. Lebih baik ia sibuk dengan ponselnya.</p>

<p>“Ghin,” panggil sang adam dan dibalas dehaman oleh si gadis. “Alasan lu nolak cowok kenapa, dah?”</p>

<p>“Deket baru dua minggu udah ngajak pacaran. Emangnya gua apaan,” sewot si gadis.</p>

<p>“Kalo gua yang nembak, lu tolak juga, gak?”</p>

<p>“Ya enggak, lah.”</p>

<p>“Hah?”</p>

<p><em>1 detik</em></p>

<p><em>3 detik</em></p>

<p><em>5 detik</em></p>

<p>“Tolol banget, Ghina!” pekik si gadis sembari menutup wajahnya malu. Kepalang tanggung, sang puan pun berseru, “Gian, jadi pacar gua, yuk!”</p>

<p>“L-lu nembak kaya ngajak jajan cilok.” Ginadra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, canggung rasanya. “Harusnya kan itu bagian gua.”</p>

<p>“Kelamaan kalo nungguin lu,” cicit gadis Alviera pelan.</p>

<p>“Gua mau gerak cepet, tapi webnya error mulu,” ucapan Giandra membuat lawan bicaranya menyerit bingung. Tau akan kebingungan si gadis, ia memutar laptop miliknya. Layar itu menampilkan rentetan koding yang jelas tak dimengerti gadis Alviera. Dalam hitungan detik, layar berganti menjadi web yang dimaksud sang adam. Baru beberapa laman yang ditampilkan, layar kembali ke laman awal. “Gua sampai nanya sama kating asal lu tau.”</p>

<p>“Lagi gaya-gayaan, hobinya tipsen juga.”</p>

<p>Sang adam kini sibuk merapikan laptopnya, kemudian menghabiskan minuman yang ia pesan. “Dah, yuk cabut.”</p>

<p>“Lah, gak dilanjutin?” tanya Ghina bingung.</p>

<p>Yang ditanya menggeleng kemudian melukis senyuman di wajahnya. “Gak lah, kan udah jadi pacar.”</p>

<p>“Dih. Kok-”</p>

<p>“Gak usah banyak protes ah. Berasa petinggi negara deh gua, diprotes mulu,” potong Giandra sembari merangkul gadisnya. Daripada dirangkul, sang adam malah terlihat sedang menyeret si gadis.</p>

<p><em>Jadiannya? Udah. Gitu doang.</em>
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅡEnd,
<em>http10tion</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://http10tion.writeas.com/jadian</guid>
      <pubDate>Sat, 05 Feb 2022 10:11:08 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Pertemuan Dua Insan</title>
      <link>https://http10tion.writeas.com/pertemuan-dua-insan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Permisi, kak, punya pulpen lagi, gak?&#34;&#xA;&#xA;Dwinetra milik Ghina kini teralih pada sosok pemuda yang duduk di kursi sebelahnya. Bisa saja ia menjawab &#34;enggak ada&#34; dengan cepat. Sayangnya, jawaban yang keluar dari mulutnya malahㅡ&#xA;&#xA;&#34;Buat apa?&#34;!--more--&#xA;&#xA;Jika boleh jujur, ia bukan tipe orang yang suka berbasa-basi, terutama pada orang asing. &#xA;&#xA;&#34;Ngerjain tugas,&#34; jawab sang adam membuat sang puan hampir tersedak ludah sendiri. Bukan terkejut dengan alasannya, tetapi posisi mereka yang tengah menghadiri seminar. &#34;Boleh pinjem, kak?&#34; tanyanya lagi untuk memastikan.&#xA;&#xA;Gadis Alviera pun berpikir sejenak, sedikit ragu tentunya. Tak lama mengangguk lalu memberikan pulpen yang ia pegang sejak tadi.&#xA;&#xA;Lima belas menit pun berlalu. Gadis bersurai hitam legam itu mulai bosan dengan presentasi yang ada. Tubuhnya dibawa sang empu untuk bersandar, melirik sekilas kearah pemuda di sebelahnya. Ia baru sadar jika sang adam tidak sendiri-ada dua orang lagi jika ia tidak salah.&#xA;&#xA;&#34;Buruan anjir, deadlinenya lima belas menit lagi.&#34;&#xA;&#34;Masih lama itu.&#34;&#xA;&#34;Tinggalin aja udah.&#34;&#xA;&#34;Emang ya, TEMEN!&#34;&#xA;&#xA;Ricuh tapi tidak berisik. Yang bisa Ghina lakukan hanya buang muka, takut-takut ia dikira teman mereka. &#xA;&#xA;Ketiganya pergi tak lama setelah membuat keributan kecil. Beruntung mereka duduk di bagian belakang, bahkan dekat dengan pintu keluar. Juga netra Ghina yang mengikuti kepergian ketiga anak adam itu. Sedikit bersyukur karena tak akan ada keributan untuk kedua kalinya. &#xA;&#xA;Hingga ia tersadar akan barang yang sedang dipinjamkanㅡ&#xA;&#xA;&#34;PULPEN GUA SATU-SATUNYA???&#34; &#xA;&#xA;Ya, ini sih nasibnya beli pulpen baru.&#xA;ㅤ&#xA;ㅤ&#xA;ㅤ&#xA;---&#xA;ㅤ&#xA;ㅤ&#xA;ㅤ&#xA;&#34;Nah, ketemu.&#34;&#xA;&#xA;Ghina yang sibuk mencari buku referensi pun menoleh. Perpustakaan memang identik dengan tempat yang hening. Maka ia tak sulit menemukan dimana arah sumber suara. Dan sebuah pulpen kini disodorkan oleh pemuda yang entah datang dari mana dan sejak kapan. &#xA;&#xA;&#34;Makasih, kak,&#34; ucap sang adam membuat si gadis bingung.&#xA;&#xA;Dahinya berkerut, mengingat-ingat siapa pemuda di depannya juga apa hubungannya dengan pulpen. &#34;Ambil aja. Udah sebulan juga kan ada di kamu?&#34; ucap si gadis kala ia mengingat kejadian seminar sebulan yang lalu.&#xA;&#xA;&#34;Gak boleh gitu, kak.&#34; Tanpa aba-aba, tangan sang adam meraih tangan Ghina cepat, menyimpan pulpen tersebut di telapak tangan si gadis serta merapatkan jemari gadis itu-membuat Ghina menggenggam pulpen miliknya. &#34;Namanya juga minjem, harus dibalikin. Gak pernah saya pake juga kok setelah hari itu.&#34;&#xA;&#xA;Gadis itu mengedipkan matanya berulang kali, masih memproses kejadian beberapa detik yang lalu. Rasanya waktu berjalan 10x lebih lambat. Ia mengangguk sebagai respon akan penjelasan pemuda di depannya.&#xA;&#xA;Netranya kini teralih pada pergelangan tangannya yang masih digenggam oleh sang adam. Beruntung lawan bicaranya peka pada keadaan sehingga ia melepas genggaman tangannya tanpa diminta.&#xA;&#xA;&#34;Sorry,&#34; ucapnya cepat sembari mengusap tengkuknya. &#34;Hari ini sibuk gak? Saya mau traktir sebagai ucapan terima kasih sama permintaan maaf.&#34;&#xA;&#xA;Kedua alis Ghina bertaut. Bingung. &#34;Buat apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sebagai ucapan terima kasih sama permintaan maaf,&#34; ulang sang adam.&#xA;&#xA;&#34;Saya gak minta.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi saya mau.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Saya maksa.&#34;&#xA;&#xA;Ghina menghela napas lelah. Gak akan kelar kalo gini ceritanya. Berakhir ia melontarkan alasan, &#34;tapi saya gak bisa sekarang, masih ada jam kuliah sampai sore.&#34; &#xA;&#xA;Sang adam mengangguk. Dengan cepat tangannya meraih ponsel kemudian menyodorkannya pada si gadis. &#34;Nomornya deh, biar enak janjiannya.&#34;&#xA;&#xA;Loh, ini sih modus namanya.&#xA;&#xA;&#34;Bukan modus kok. Serius.&#34; Mau bilang apa pun juga sang puan masih melirik pemuda itu seperti meminta penjelasan lebih. &#34;Kenalan dulu deh. Saya Giandra, anak ilmu komputer angkatan 2015. Nomor NIM sekalian juga gak?&#34;&#xA;&#xA;Kekehan pun kini dilayangkan oleh gadis. Seangkatan rupanya. Yang ia lakukan sekarang adalah meraih ponsel sang adam, mengetik nomor sekaligus menyimpan kontaknya di ponsel sang adam. Dan ini TMI, satu-satunya orang asing yang berhasil mendapatkan nomornya mungkin hanya pemuda ini. &#34;Gua Ghina, ilmu keperawatan angkatan 2015.&#34; Ia memperkenalkan diri, impas.&#xA;&#xA;&#34;Kirain kating,&#34; ujar sang adam membuat gadis itu kembali terkekeh, &#34;handphonenya di silent kan? Gua telepon ya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan!&#34;&#xA;&#xA;Terlambat sudah. Ponselnya berdering nyaring membuat seluruh mata tertuju pada mereka berdua. Ya...secepat apa pun tangan Giandra mengcancel panggilan atau Ghina yang mereject, tetap saja kalah dengan kecepatan jaringan.&#xA;&#xA;Keduanya tersenyum canggung. Menyerukan permintaan maaf tanpa suara pada para pengunjung yang lain. Cukup beruntung mengingat hanya ada beberapa orang yang ada di perpustakaan siang itu.&#xA;&#xA;&#34;Sorry,&#34; bisik Giandra setelah membuat keributan. &#34;Udah ah, gua kabur. Selamat ketemu lagi, Ghina.&#34; Dan sang adam langsung pergi tepat setelah menyelesaikan ucapannya.&#xA;&#xA;Sedangkan gadis Alviera hanya dapat menghela napas pasrah. Sepertinya ia tidak akan datang ke perpustakaan dalam waktu dekat. Dan, mari kita doakan kejadian ini tidak menjadi cerita dari mulut ke mulut hingga ia lulus.&#xA;ㅤ&#xA;ㅤ&#xA;ㅤ&#xA;ㅡEnd,&#xA;http10tion]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Permisi, kak, punya pulpen lagi, gak?”</p>

<p>Dwinetra milik Ghina kini teralih pada sosok pemuda yang duduk di kursi sebelahnya. Bisa saja ia menjawab “enggak ada” dengan cepat. Sayangnya, jawaban yang keluar dari mulutnya malahㅡ</p>

<p>“Buat apa?”</p>

<p>Jika boleh jujur, ia bukan tipe orang yang suka berbasa-basi, terutama pada orang asing.</p>

<p>“Ngerjain tugas,” jawab sang adam membuat sang puan hampir tersedak ludah sendiri. Bukan terkejut dengan alasannya, tetapi posisi mereka yang tengah menghadiri seminar. “Boleh pinjem, kak?” tanyanya lagi untuk memastikan.</p>

<p>Gadis Alviera pun berpikir sejenak, sedikit ragu tentunya. Tak lama mengangguk lalu memberikan pulpen yang ia pegang sejak tadi.</p>

<p>Lima belas menit pun berlalu. Gadis bersurai hitam legam itu mulai bosan dengan presentasi yang ada. Tubuhnya dibawa sang empu untuk bersandar, melirik sekilas kearah pemuda di sebelahnya. Ia baru sadar jika sang adam tidak sendiri-ada dua orang lagi jika ia tidak salah.</p>

<p>“Buruan anjir, <em>deadline</em>nya lima belas menit lagi.”
“Masih lama itu.”
“Tinggalin aja udah.”
“Emang ya, TEMEN!”</p>

<p>Ricuh tapi tidak berisik. Yang bisa Ghina lakukan hanya buang muka, takut-takut ia dikira teman mereka.</p>

<p>Ketiganya pergi tak lama setelah membuat keributan kecil. Beruntung mereka duduk di bagian belakang, bahkan dekat dengan pintu keluar. Juga netra Ghina yang mengikuti kepergian ketiga anak adam itu. Sedikit bersyukur karena tak akan ada keributan untuk kedua kalinya.</p>

<p>Hingga ia tersadar akan barang yang sedang dipinjamkanㅡ</p>

<p>“PULPEN GUA SATU-SATUNYA???”</p>

<p><em>Ya, ini sih nasibnya beli pulpen baru.</em>
ㅤ
ㅤ
ㅤ</p>

<hr/>

<p>ㅤ
ㅤ
ㅤ
“Nah, ketemu.”</p>

<p>Ghina yang sibuk mencari buku referensi pun menoleh. Perpustakaan memang identik dengan tempat yang hening. Maka ia tak sulit menemukan dimana arah sumber suara. Dan sebuah pulpen kini disodorkan oleh pemuda yang entah datang dari mana dan sejak kapan.</p>

<p>“Makasih, kak,” ucap sang adam membuat si gadis bingung.</p>

<p>Dahinya berkerut, mengingat-ingat siapa pemuda di depannya juga apa hubungannya dengan pulpen. “Ambil aja. Udah sebulan juga kan ada di kamu?” ucap si gadis kala ia mengingat kejadian seminar sebulan yang lalu.</p>

<p>“Gak boleh gitu, kak.” Tanpa aba-aba, tangan sang adam meraih tangan Ghina cepat, menyimpan pulpen tersebut di telapak tangan si gadis serta merapatkan jemari gadis itu-membuat Ghina menggenggam pulpen miliknya. “Namanya juga minjem, harus dibalikin. Gak pernah saya pake juga kok setelah hari itu.”</p>

<p>Gadis itu mengedipkan matanya berulang kali, masih memproses kejadian beberapa detik yang lalu. <em>Rasanya waktu berjalan 10x lebih lambat</em>. Ia mengangguk sebagai respon akan penjelasan pemuda di depannya.</p>

<p>Netranya kini teralih pada pergelangan tangannya yang masih digenggam oleh sang adam. Beruntung lawan bicaranya peka pada keadaan sehingga ia melepas genggaman tangannya tanpa diminta.</p>

<p>“<em>Sorry</em>,” ucapnya cepat sembari mengusap tengkuknya. “Hari ini sibuk gak? Saya mau traktir sebagai ucapan terima kasih sama permintaan maaf.”</p>

<p>Kedua alis Ghina bertaut. Bingung. “Buat apa?”</p>

<p>“Sebagai ucapan terima kasih sama permintaan maaf,” ulang sang adam.</p>

<p>“Saya gak minta.”</p>

<p>“Tapi saya mau.”</p>

<p>“Tapi-”</p>

<p>“Saya maksa.”</p>

<p>Ghina menghela napas lelah. Gak akan kelar kalo gini ceritanya. Berakhir ia melontarkan alasan, “tapi saya gak bisa sekarang, masih ada jam kuliah sampai sore.”</p>

<p>Sang adam mengangguk. Dengan cepat tangannya meraih ponsel kemudian menyodorkannya pada si gadis. “Nomornya deh, biar enak janjiannya.”</p>

<p><em>Loh, ini sih modus namanya.</em></p>

<p>“Bukan modus kok. Serius.” Mau bilang apa pun juga sang puan masih melirik pemuda itu seperti meminta penjelasan lebih. “Kenalan dulu deh. Saya Giandra, anak ilmu komputer angkatan 2015. Nomor NIM sekalian juga gak?”</p>

<p>Kekehan pun kini dilayangkan oleh gadis. <em>Seangkatan rupanya</em>. Yang ia lakukan sekarang adalah meraih ponsel sang adam, mengetik nomor sekaligus menyimpan kontaknya di ponsel sang adam. Dan ini TMI, satu-satunya orang asing yang berhasil mendapatkan nomornya mungkin hanya pemuda ini. “Gua Ghina, ilmu keperawatan angkatan 2015.” Ia memperkenalkan diri, impas.</p>

<p>“Kirain kating,” ujar sang adam membuat gadis itu kembali terkekeh, “<em>handphone</em>nya di <em>silent</em> kan? Gua telepon ya.”</p>

<p>“Jangan!”</p>

<p>Terlambat sudah. Ponselnya berdering nyaring membuat seluruh mata tertuju pada mereka berdua. Ya...secepat apa pun tangan Giandra meng<em>cancel</em> panggilan atau Ghina yang me<em>reject</em>, tetap saja kalah dengan kecepatan jaringan.</p>

<p>Keduanya tersenyum canggung. Menyerukan permintaan maaf tanpa suara pada para pengunjung yang lain. Cukup beruntung mengingat hanya ada beberapa orang yang ada di perpustakaan siang itu.</p>

<p>“<em>Sorry</em>,” bisik Giandra setelah membuat keributan. “Udah ah, gua kabur. Selamat ketemu lagi, Ghina.” Dan sang adam langsung pergi tepat setelah menyelesaikan ucapannya.</p>

<p>Sedangkan gadis Alviera hanya dapat menghela napas pasrah. Sepertinya ia tidak akan datang ke perpustakaan dalam waktu dekat. <em>Dan, mari kita doakan kejadian ini tidak menjadi cerita dari mulut ke mulut hingga ia lulus.</em>
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅡEnd,
<em>http10tion</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://http10tion.writeas.com/pertemuan-dua-insan</guid>
      <pubDate>Sat, 05 Feb 2022 10:07:46 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Evelyn Special Day</title>
      <link>https://http10tion.writeas.com/evelyn-special-day?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Jemari gadis Anindita kembali memijit pelipisnya. Hari spesialnya hanya dipenuhi dengan pertanyaan, &#34;ini anak tiga bakal ngapain?&#34;, &#34;gua bakal dikerjain mereka gak ya?&#34;, &#34;kenapa sih gua harus temenan sama mereka???&#34;, dan mungkin terlalu banyak jika harus disebutkan satu persatu.!--more--&#xA;&#xA;&#34;Mas,&#34; panggil sang dara pada temannya yang paling waras di grup mereka, &#34;bukannya mbak Nana juga ulang tahun?&#34;&#xA;&#xA;Yang ditanya mengangguk, &#34;udah izin kok,&#34; jawab sang adam yang masih sibuk dengan dekorasi untuk si gadis, &#34;lagi pula kak Nana juga lagi ngerayain sama temen-temennya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kok lu nurut sih sama Radit?&#34; tanya Evelyn, lagi.&#xA;&#xA;Adimas terkekeh kecil, &#34;Namanya juga temen.&#34;&#xA;&#xA;Tak ada suara setelah jawaban dari Dimas terlontar. Hingga tak sadar jika jarum jam telah menunjuk ke angka delapan dan...&#xA;&#xA;&#34;MET MALEM GUYS, MAS RADIT DATANG~!&#34;&#xA;&#xA;...nah ini biang masalahnya.&#xA;&#xA;Evelyn memutar bola matanya malas. Netranya kini beralih pada tangan kosong milik dua pemuda yang baru datang. Dahinya berkerut, &#34;katanya kue dari lu pada.&#34;&#xA;&#xA;Bukan. Evelyn bukan mengharapkan kue dari ketiga temannya. Hanya saja mereka jarang bercanda untuk masalah seperti ini, ya, walau ketikan mereka terlihag seperti candaan.&#xA;&#xA;&#34;JIAKH, PENGEN YAA~&#34; pukulan kecil kini mendarat mulus tepat di bahu Radit, tentu pelakunya adalah gadis yang berulang tahun. &#34;Cewek tenaganya kaya kuli,&#34; cibirnya pelan, &#34;nyusul kuenya, paling bentar lagi.&#34;&#xA;&#xA;Terkadang memang gengnya yang satu ini penuh akan tanda tanya, terutama Radit dengan jalan pikiran yang tak mudah ditebak. Belum lagi Adimas yang menurut Evelyn salah memilih circle pertemanan. Juga Bima yang kadang waras walau lebih sering jadi partner ketidak warasan seorang Raditya Zidan.&#xA;&#xA;Bunyi bel rumah menghentikan aktifitas empat serangkai itu. Saling berpandangan dengan pertanyaan yang sama di kepala.&#xA;&#xA;&#34;Ambil gih, Lyn,&#34; ucap Radit-walau lebih cocok dibilang perintah-pada Evelyn.&#xA;&#xA;&#34;Kok gua?!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya kan rumah lu,&#34; sahut Radit membuat lawan bicaranya berdecak.&#xA;&#xA;Tak ada yang salah dengan ucapan pemuda kelebihan kalsium itu. Tapi tetap saja, mau kesal juga Radit yang ngomong. Pada akhirnya ia tetap melakukan sesuai ucapan sang adam.&#xA;&#xA;&#34;Malam, ada yang bisaㅡLOH, ARGA?&#34; Netra kembarnya membulat sempurna.&#xA;&#xA;Sosok dibalik pintu pun mengangkat kotak putih berlogo toko kue favorit Evelyn di tangannya, ditambah senyuman kecil yang ikut mengembang di wajah manis milik sang adam. Devian Arga Pratama, pemuda yang ia rindukan sebulan terakhir.&#xA;&#xA;&#34;Long time not see, Evelyn.&#34;&#xA;&#xA;Rasanya Evelyn ingin menangis detik itu juga. Tapi apa daya ketiga curut di belakangnya malah mengacaukan suasana sendu antara dua insan yang tak bertemu sejak enam tahun silam.&#xA;&#xA;Ledakan dari party popper serta teriakan selamat ulang tahun membuat sang puan mengepalkan tangannya, menahan diri untuk tidak memukul mereka. Confetti pun mulai bertebaran, bahkan telah menjadi hiasan rambut di kepala Evelyn.&#xA;&#xA;&#34;HAPPY BIRTHDAY EVELYN!!!&#34;&#xA;&#xA;&#34;LU PADA NGERUSUH AJA SIH!&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Jemari gadis Anindita kembali memijit pelipisnya. Hari spesialnya hanya dipenuhi dengan pertanyaan, <em>“ini anak tiga bakal ngapain?”, “gua bakal dikerjain mereka gak ya?”, “kenapa sih gua harus temenan sama mereka???”</em>, dan mungkin terlalu banyak jika harus disebutkan satu persatu.</p>

<p>“Mas,” panggil sang dara pada temannya yang paling waras di grup mereka, “bukannya mbak Nana juga ulang tahun?”</p>

<p>Yang ditanya mengangguk, “udah izin kok,” jawab sang adam yang masih sibuk dengan dekorasi untuk si gadis, “lagi pula kak Nana juga lagi ngerayain sama temen-temennya.”</p>

<p>“Kok lu nurut sih sama Radit?” tanya Evelyn, lagi.</p>

<p>Adimas terkekeh kecil, “Namanya juga temen.”</p>

<p>Tak ada suara setelah jawaban dari Dimas terlontar. Hingga tak sadar jika jarum jam telah menunjuk ke angka delapan dan...</p>

<p>“MET MALEM GUYS, MAS RADIT DATANG~!”</p>

<p><em>...nah ini biang masalahnya.</em></p>

<p>Evelyn memutar bola matanya malas. Netranya kini beralih pada tangan kosong milik dua pemuda yang baru datang. Dahinya berkerut, “katanya kue dari lu pada.”</p>

<p>Bukan. Evelyn bukan mengharapkan kue dari ketiga temannya. Hanya saja mereka jarang bercanda untuk masalah seperti ini, ya, walau ketikan mereka terlihag seperti candaan.</p>

<p>“JIAKH, PENGEN YAA~” pukulan kecil kini mendarat mulus tepat di bahu Radit, tentu pelakunya adalah gadis yang berulang tahun. “Cewek tenaganya kaya kuli,” cibirnya pelan, “nyusul kuenya, paling bentar lagi.”</p>

<p>Terkadang memang gengnya yang satu ini penuh akan tanda tanya, terutama Radit dengan jalan pikiran yang tak mudah ditebak. Belum lagi Adimas yang menurut Evelyn salah memilih <em>circle</em> pertemanan. Juga Bima yang kadang waras walau lebih sering jadi <em>partner</em> ketidak warasan seorang Raditya Zidan.</p>

<p>Bunyi bel rumah menghentikan aktifitas empat serangkai itu. Saling berpandangan dengan pertanyaan yang sama di kepala.</p>

<p>“Ambil gih, Lyn,” ucap Radit-walau lebih cocok dibilang perintah-pada Evelyn.</p>

<p>“Kok gua?!”</p>

<p>“Ya kan rumah lu,” sahut Radit membuat lawan bicaranya berdecak.</p>

<p>Tak ada yang salah dengan ucapan pemuda kelebihan kalsium itu. Tapi tetap saja, mau kesal juga Radit yang ngomong. Pada akhirnya ia tetap melakukan sesuai ucapan sang adam.</p>

<p>“Malam, ada yang bisaㅡLOH, ARGA?” Netra kembarnya membulat sempurna.</p>

<p>Sosok dibalik pintu pun mengangkat kotak putih berlogo toko kue favorit Evelyn di tangannya, ditambah senyuman kecil yang ikut mengembang di wajah manis milik sang adam. Devian Arga Pratama, pemuda yang ia rindukan sebulan terakhir.</p>

<p>“<em>Long time not see</em>, Evelyn.”</p>

<p>Rasanya Evelyn ingin menangis detik itu juga. Tapi apa daya ketiga curut di belakangnya malah mengacaukan suasana sendu antara dua insan yang tak bertemu sejak enam tahun silam.</p>

<p>Ledakan dari <em>party popper</em> serta teriakan selamat ulang tahun membuat sang puan mengepalkan tangannya, menahan diri untuk tidak memukul mereka. <em>Confetti</em> pun mulai bertebaran, bahkan telah menjadi hiasan rambut di kepala Evelyn.</p>

<p>“HAPPY BIRTHDAY EVELYN!!!”</p>

<p>“LU PADA NGERUSUH AJA SIH!”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://http10tion.writeas.com/evelyn-special-day</guid>
      <pubDate>Thu, 19 Aug 2021 09:25:35 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Akhir Tanpa Sebuah Awalan</title>
      <link>https://http10tion.writeas.com/akhir-tanpa-sebuah-awalan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[⠀&#xA;&#xA;April, 2015&#xA;&#xA;Putih abu-abu, banyak orang bilang jika itu masanya para remaja jatuh cinta. Selalu berekspektasi dengan kisah bergenre romance-comedy selama tiga tahun menimba ilmu. Ya, setidaknya terselip satu kisah romantis yang bisa dibanggakan di hari tua. !--more--&#xA;&#xA;Namun, memang tak semua seindah lagu Kisah Kasih di Sekolah milik Chrisye atau Inikah Cinta yang dipopulerkan oleh M.E. Tau-taunya kisah kasih berjalan seperti lagu Dewa19 yang berjudul Pupus dan bahkan menjadi Mantan Terindah kalau kata Kahitna.&#xA;&#xA;Dan, Ya, apapun itu, semangat untuk pejuang cinta di masa putih abu-abu!&#xA;&#xA;Tidak jauh berbeda dengan jalan cerita Evelyn selama mengenyam pendidikan di SMA. Manis manis tragis. Tragis karena hanya saling melabeli &#34;itu punya gua, jangan di gebet&#34; dengan sang gebetan, Devian Arga Pratama, tapi tak ada status diantara mereka. Kayak, semua orang tau mereka deket, tapi kalau ditanya statusnya apa, ya, &#34;cuma temen&#34;. &#xA;&#xA;Cukup disayangkan. Padahal kerjaan mereka suap-suapan bekal milik Evelyn, saling berbagi contekan, yang terakhir saling sinis kalau ada &#34;pengganggu&#34; di sebelah temannya itu.&#xA;&#xA;Tolong semua salahkan Arga yang sok-sokan berjanji pada sang ibu untuk tidak berpacaran sampai umurnya 25 tahun. Beruntung Evelyn bukan tipe perempuan yang harus berpacaran untuk melakukan adegan &#34;menggelikan&#34; setiap harinya. Ya, walau berakhir si gadis mendapat omelan dari teman dekatnya.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Ujian kelas dua belas telah berakhir sepekan yang lalu. Mereka hanya tinggal menunggu kelulusan. Walau kenyataannya mereka tidak boleh meliburkan diri, mengingat absensi tetap berjalan. Ya, jangan heran jika masuk ke kelas dua belas akan menjumpai anak-anak yang telah berubah menjadi anak ayam di pasar. Rambut berwarna coklat terang, dark blue, atau bahkan merah menyala menjadi pemandangan indah bagi guru BK. Begitu pula Arga, memilih bersembunyi di taman belakang, tampat persembunyian anak kelas jika malas ikut kelas.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa lu? Abis disemprot bu Maya?&#34; Arga kini berdecak kesal kala gadis Anindita menghampiri, &#34;HAHAHAHA ANAK AYAM!&#34; Tawa Evelyn pecah seketika saat ia sadar akan perubahan rambut legam milik sang adam.&#xA;&#xA;&#34;Diem kenapa sih, nanti ketauan.&#34; Gadis itu langsung diam, walau pada kenyataannya ia malah tertawa tanpa suara. &#34;Sialan emang si Bima, katanya kemarin dia ganti warna rambut jadi hijau, tau-taunya masih hitam,&#34; gerutu sang adam kembali mengundang tawa bagi gadis disebelahnya.&#xA;&#xA;&#34;Ya lu aneh-aneh aja, anak ayam,&#34; ledek Evelyn membuat lawan bicaranya memutar bola mata malas.&#xA;&#xA;Seketika hening menghampiri. Ucapan gadis Anindita menjadi akhir akan topik warna rambut Arga. Lebih tepatnya, sang adam malas menanggapi dan Evelyn tidak ingin memancing emosi temannya yang bersumbu pendek itu. Membiarkan angin siang menerpa wajah mereka, menikmati waktu berdua tanpa obrolan.&#xA;&#xA;Lima menit berlalu. Arga kembali bersuara, tidak bisa berlama-lama dengan keadaan hening. &#34;Gimana persiapan sbm lu?&#34;&#xA;&#xA;Lirikan sinis kini dilayangkan gadis berpipi chubby itu, kemudian ia berdecak kesal. &#34;Iya tau yang pinter mah,&#34; cibir Evelyn disambut tawa renyah oleh sang pujaan hati.&#xA;&#xA;Lucu memang kisah cinta anak SMA. Terlihat biasa, tapi terasa manis bagi mereka yang jadi pemeran utama.&#xA;&#xA;&#34;Lyn,&#34; panggil sang adam pelan dan disambut dehaman oleh si empunya nama, &#34;kita udahan aja, ya?&#34; &#xA;&#xA;Si gadis menoleh. Dapat Arga tebak jika gadis itu menatapnya bingung dengan dahi berkerut, tapi ia sama sekali tak berniat menatap balik gadis itu.&#xA;&#xA;&#34;Apa yang udahan?&#34; tanya lawan bicaranya, memastikan maksud si pemuda.&#xA;&#xA;&#34;Kita.&#34; Arga diam sejenak, mencari kata yang bisa mendeskripsikan kata itu, &#34;hubungan kita.&#34;&#xA;&#xA;Evelyn tekekeh kecil, &#34;Kita bahkan gak punya hubungan apa-apa, Arga. Masa lu lupa.&#34; sahut si gadis yang masih menganggap lucu celotehan sang gebetan.&#xA;&#xA;Salah satu sudut bibir sang adam kini tertarik, tersenyum miris mendengar jawaban gadis yang ia suka setahun yang lalu. Tidak aneh, mengingat sang dara jarang serius.&#xA;&#xA;Sekon berikutnya ia bangkit dari duduknya, menghadap Evelyn seraya tersenyum simpul, &#34;balik yuk, udah jam sepuluh.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ck, ngapain coba ke sekolah ngotorin baju doang. Tau gitu gua titip absen aja,&#34; oceh dara kelahiran 1996 itu, melangkah lebih dulu meninggalkan taman dibandingkan pemuda Pratama. &#xA;&#xA;&#34;Hari terakhir sekolah juga, besok udah enggak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lu sedih gak? Sedih lah, soalnya gak bisa ngerusuhin bekal gua lagi kan lu?&#34; Lagi, gadis itu meledek pemuda yang enam sentimeter lebih tinggi darinya. &#34;Sebelum pulang foto dulu ya, kenang-kenangan hari terakhir di sekolah bersama mas doi.&#34;&#xA;&#xA;Dan ajakan Evelyn disambut anggukan oleh Arga. Hingga si gadis sadar, jika ajakannya di hari itu benar-benar menjadi sebuah kenangan terakhir akan dirinya dan kisah cintanya di SMA.&#xA;&#xA;⠀&#xA;⠀&#xA;⠀&#xA;⠀&#xA;sunpeullowe]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>⠀</p>

<h4 id="april-2015" id="april-2015"><em>April, 2015</em></h4>

<p>Putih abu-abu, banyak orang bilang jika itu masanya para remaja jatuh cinta. Selalu berekspektasi dengan kisah ber<em>genre romance-comedy</em> selama tiga tahun menimba ilmu. Ya, setidaknya terselip satu kisah romantis yang bisa dibanggakan di hari tua. </p>

<p>Namun, memang tak semua seindah lagu <em>Kisah Kasih di Sekolah</em> milik Chrisye atau <em>Inikah Cinta</em> yang dipopulerkan oleh M.E. Tau-taunya kisah kasih berjalan seperti lagu Dewa19 yang berjudul <em>Pupus</em> dan bahkan menjadi <em>Mantan Terindah</em> kalau kata Kahitna.</p>

<p><em>Dan, Ya, apapun itu, semangat untuk pejuang cinta di masa putih abu-abu!</em></p>

<p>Tidak jauh berbeda dengan jalan cerita Evelyn selama mengenyam pendidikan di SMA. Manis manis tragis. Tragis karena hanya saling melabeli “itu punya gua, jangan di gebet” dengan sang gebetan, Devian Arga Pratama, tapi tak ada status diantara mereka. Kayak, semua orang tau mereka deket, tapi kalau ditanya statusnya apa, ya, <strong><em>“cuma temen”</em></strong>.</p>

<p>Cukup disayangkan. Padahal kerjaan mereka suap-suapan bekal milik Evelyn, saling berbagi contekan, yang terakhir saling sinis kalau ada “pengganggu” di sebelah <strong><em>teman</em></strong>nya itu.</p>

<p>Tolong semua salahkan Arga yang sok-sokan berjanji pada sang ibu untuk tidak berpacaran sampai umurnya 25 tahun. Beruntung Evelyn bukan tipe perempuan yang harus berpacaran untuk melakukan adegan “menggelikan” setiap harinya. Ya, walau berakhir si gadis mendapat omelan dari teman dekatnya.</p>

<hr/>

<p>Ujian kelas dua belas telah berakhir sepekan yang lalu. Mereka hanya tinggal menunggu kelulusan. Walau kenyataannya mereka tidak boleh meliburkan diri, mengingat absensi tetap berjalan. Ya, jangan heran jika masuk ke kelas dua belas akan menjumpai anak-anak yang telah berubah menjadi anak ayam di pasar. Rambut berwarna coklat terang, <em>dark blue</em>, atau bahkan merah menyala menjadi pemandangan indah bagi guru BK. Begitu pula Arga, memilih bersembunyi di taman belakang, tampat persembunyian anak kelas jika malas ikut kelas.</p>

<p>“Kenapa lu? Abis disemprot bu Maya?” Arga kini berdecak kesal kala gadis Anindita menghampiri, “HAHAHAHA ANAK AYAM!” Tawa Evelyn pecah seketika saat ia sadar akan perubahan rambut legam milik sang adam.</p>

<p>“Diem kenapa sih, nanti ketauan.” Gadis itu langsung diam, walau pada kenyataannya ia malah tertawa tanpa suara. “Sialan emang si Bima, katanya kemarin dia ganti warna rambut jadi hijau, tau-taunya masih hitam,” gerutu sang adam kembali mengundang tawa bagi gadis disebelahnya.</p>

<p>“Ya lu aneh-aneh aja, anak ayam,” ledek Evelyn membuat lawan bicaranya memutar bola mata malas.</p>

<p>Seketika hening menghampiri. Ucapan gadis Anindita menjadi akhir akan topik warna rambut Arga. Lebih tepatnya, sang adam malas menanggapi dan Evelyn tidak ingin memancing emosi temannya yang bersumbu pendek itu. Membiarkan angin siang menerpa wajah mereka, menikmati waktu berdua tanpa obrolan.</p>

<p>Lima menit berlalu. Arga kembali bersuara, tidak bisa berlama-lama dengan keadaan hening. “Gimana persiapan sbm lu?”</p>

<p>Lirikan sinis kini dilayangkan gadis berpipi <em>chubby</em> itu, kemudian ia berdecak kesal. “Iya tau yang pinter mah,” cibir Evelyn disambut tawa renyah oleh sang pujaan hati.</p>

<p>Lucu memang kisah cinta anak SMA. Terlihat biasa, tapi terasa manis bagi mereka yang jadi pemeran utama.</p>

<p>“Lyn,” panggil sang adam pelan dan disambut dehaman oleh si empunya nama, “kita udahan aja, ya?”</p>

<p>Si gadis menoleh. Dapat Arga tebak jika gadis itu menatapnya bingung dengan dahi berkerut, tapi ia sama sekali tak berniat menatap balik gadis itu.</p>

<p>“Apa yang udahan?” tanya lawan bicaranya, memastikan maksud si pemuda.</p>

<p>“Kita.” Arga diam sejenak, mencari kata yang bisa mendeskripsikan kata itu, “hubungan kita.”</p>

<p>Evelyn tekekeh kecil, “Kita bahkan gak punya hubungan apa-apa, Arga. Masa lu lupa.” sahut si gadis yang masih menganggap lucu celotehan sang gebetan.</p>

<p>Salah satu sudut bibir sang adam kini tertarik, tersenyum miris mendengar jawaban gadis yang ia suka setahun yang lalu. Tidak aneh, mengingat sang dara jarang serius.</p>

<p>Sekon berikutnya ia bangkit dari duduknya, menghadap Evelyn seraya tersenyum simpul, “balik yuk, udah jam sepuluh.”</p>

<p>“Ck, ngapain coba ke sekolah ngotorin baju doang. Tau gitu gua titip absen aja,” oceh dara kelahiran 1996 itu, melangkah lebih dulu meninggalkan taman dibandingkan pemuda Pratama.</p>

<p>“Hari terakhir sekolah juga, besok udah enggak.”</p>

<p>“Lu sedih gak? Sedih lah, soalnya gak bisa ngerusuhin bekal gua lagi kan lu?” Lagi, gadis itu meledek pemuda yang enam sentimeter lebih tinggi darinya. “Sebelum pulang foto dulu ya, kenang-kenangan hari terakhir di sekolah bersama mas doi.”</p>

<p>Dan ajakan Evelyn disambut anggukan oleh Arga. Hingga si gadis sadar, jika ajakannya di hari itu benar-benar menjadi sebuah kenangan terakhir akan dirinya dan kisah cintanya di SMA.</p>

<p>⠀
⠀
⠀
⠀
<code>sunpeullowe</code></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://http10tion.writeas.com/akhir-tanpa-sebuah-awalan</guid>
      <pubDate>Mon, 26 Jul 2021 19:36:24 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Pradipta Bro&#39;s; Mancing dan Taruhan</title>
      <link>https://http10tion.writeas.com/pradipta-bros-mancing-dan-taruhan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit dari rumah hingga tempat pemancingan yang di kunjungi si kembar Pradipta. Sadewa kira ia perlu menunggu di parkiran sampai kedua kakaknya datang. Sayangnya ia masih harus turun ke area pemancingan dengan alasan terlalu berat untuk dibawa berdua. Ya memangnya seberat apa sih sampai dua kakaknya itu tidak kuat? !--more--&#xA;&#xA;&#34;Mas Juna, Kak Ino!&#34; seru si bungsu saat melihat kedua kakaknya dari kejauhan. Tentu saja ia langsung menghampiri. &#34;Seberat apa sih sampe lu ber-YA TUHAN, LU BERDUA MANCING APA NGERAMPOK?!&#34; &#xA;&#xA;Teriakan Sadewa sukses membuat mereka menjadi pusat perhatian. Ya gimana, baru saja si bungsu datang dan disuguhi dua kantong plastik besar hasil tangkapan yang sudah dibersihkan. Belum lagi masih ada satu jaring ikan yang menunggu giliran.&#xA;&#xA;&#34;Berapa kilo?&#34; Tangan Arjuna pun bergerak, menampilkan kedua telapak tangannya kepada adiknya. &#34;Sepuluh?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Lebih.&#34;&#xA;&#xA;Netra kembar milik Sadewa pun membulat sempurna. &#34;DEMI?&#34; tanyanya tak percaya. Dengan refleks pun ia bertepuk tangan, masih tak percaya apa yang terjadi.&#xA;&#xA;&#34;Coba aja lu bawa sendirian itu ikan,&#34; ucap si sulung sambil menggeser dua kantong plastik ikan ke dekat Sadewa.&#xA;&#xA;&#34;Siapa yang menang?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nanya mulu lo kaya pembantu.&#34; Kini Lino yang bersuara. Sudah jelas siapa yang menang taruhannya. &#34;Mana tau hoki gue gede kaya gini,&#34; sambungnya sembari menatap hasil tangkapan.&#xA;&#xA;Usai semua hasil pancingan dibersihkan, ketiganya pun langsung pulang. Taruhan yang kalah harus menraktir yang menang pun berganti menjadi bagian mengolah sepuluh kilo ikan. Ya kalau harus traktir juga, dompet Juna pasti sedang menangis saat ini.&#xA;&#xA;&#34;Jadi, sepuluh kilo mau diapain?&#34; &#xA;&#xA;Dan, ya, sepertinya mereka akan mabuk ikan selama sebulan.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit dari rumah hingga tempat pemancingan yang di kunjungi si kembar Pradipta. Sadewa kira ia perlu menunggu di parkiran sampai kedua kakaknya datang. Sayangnya ia masih harus turun ke area pemancingan dengan alasan terlalu berat untuk dibawa berdua. <em>Ya memangnya seberat apa sih sampai dua kakaknya itu tidak kuat?</em> </p>

<p>“Mas Juna, Kak Ino!” seru si bungsu saat melihat kedua kakaknya dari kejauhan. Tentu saja ia langsung menghampiri. “Seberat apa sih sampe lu ber-YA TUHAN, LU BERDUA MANCING APA NGERAMPOK?!”</p>

<p>Teriakan Sadewa sukses membuat mereka menjadi pusat perhatian. Ya gimana, baru saja si bungsu datang dan disuguhi dua kantong plastik besar hasil tangkapan yang sudah dibersihkan. Belum lagi masih ada satu jaring ikan yang menunggu giliran.</p>

<p>“Berapa kilo?” Tangan Arjuna pun bergerak, menampilkan kedua telapak tangannya kepada adiknya. “Sepuluh?”</p>

<p>“Lebih.”</p>

<p>Netra kembar milik Sadewa pun membulat sempurna. “DEMI?” tanyanya tak percaya. Dengan refleks pun ia bertepuk tangan, masih tak percaya apa yang terjadi.</p>

<p>“Coba aja lu bawa sendirian itu ikan,” ucap si sulung sambil menggeser dua kantong plastik ikan ke dekat Sadewa.</p>

<p>“Siapa yang menang?”</p>

<p>“Nanya mulu lo kaya pembantu.” Kini Lino yang bersuara. Sudah jelas siapa yang menang taruhannya. “Mana tau hoki gue gede kaya gini,” sambungnya sembari menatap hasil tangkapan.</p>

<p>Usai semua hasil pancingan dibersihkan, ketiganya pun langsung pulang. Taruhan yang kalah harus menraktir yang menang pun berganti menjadi bagian mengolah sepuluh kilo ikan. <em>Ya kalau harus traktir juga, dompet Juna pasti sedang menangis saat ini.</em></p>

<p>“Jadi, sepuluh kilo mau diapain?”</p>

<p><em>Dan, ya, sepertinya mereka akan mabuk ikan selama sebulan.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://http10tion.writeas.com/pradipta-bros-mancing-dan-taruhan</guid>
      <pubDate>Sat, 10 Jul 2021 23:23:51 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>